Semut Rangrang dan Gigi Emas

Sebagai seorang dokter gigi, aku dan 5 rekan lainnya terpilih untuk menyelamatkan dunia dari serangan semut rangrang yang bermutasi sebesar tikus mencit di gurun kalahari.

Lho, kenapa harus dokter gigi?

Sebab, kekuatan raja semut rangrang ada pada gigi emasnya, dan aku diperintahkan untuk memelintir gigi emasnya.

Aku begitu terkejut ketika tiba di gurun kalahari yang panas dan kering itu, terdapat sebuah pohon mangga raksasa disana. Makin mengerikan lagi begitu aku melihat semut rangrang jalan tertib pada batang pohon mangga.

Euh! Geli sekali, rasanya pengin muntah. Maka, disinilah kami harus mengakhiri ini.

“Kamu siap, Lyo?”

“Siap, Capt!”

Misi dimulai!

Saat mencoba mendekati pohon mangga, kami mulai bertemu dengan beberapa kelompok yang sedang mengangkut biji kurma.

Gila sekali!

Kami lantas menyemprotkan cairan ekstrak daun jeruk nipis yang super menyengat dengan tambahan sedikit air sabun. Awalnya mereka menyerang, sebelum akhirnya kocar-kacir dan mati.

“Good job, Team! Lanjutkan,” seru Captain H.

Semut rangrang yang berhasil kabur sepertinya membawa berita kedatangan kami. Kami pun dihadang oleh tentara semut rangrang yang saling merapatkan barisan begitu jarak kami cukup dekat dengan pohon mangga.

Kami lantas menyemprotkan cairan tersebut, meski tidak mempan karena mereka terlindungi oleh tameng dari daun mangga yang berkilau, tapi kami tidak putus asa. Justru kami melihat sebuah peluang karena mereka kewalahan menggunakan tameng yang lebih besar daripada tubuh mereka. Alhasil, beberapa dari mereka terlihat sempoyongan.

“We did it!”

Sayang, sekali efek itu tidak lama, mereka akhirnya kembali seperti semula.

“Keluarkan cairan berikutnya!” perintah Captain H.

Kami pun mengeluarkan semprotan kedua, yakni, semprotan sabun murni dengan ekstrak 5x daun jeruk nipis luar biasa menyengat.

Awalnya, mereka sempoyongan. Agak pesimis karena setelahnya Mereka kembali menyerang. Tapi kamu terus melancarkan serangan sampai akhirnya mereka pun mati berjamaah.

Hal ini pun membuat semua koloni semut rangrang keluar dari sarangnya dan menyerang kami bertubi-tubi. Kami pun tiada ampun menyemprotkan cairan itu kepada para semut. Hingga tersisa 20 jagoan semut dan saat bersamaan cairan kami habis.

Oh, tidak!

Akhirnya, senjata terlarang kami keluarkan; sebuah pedang ninja. Sekali tebas, bisa terbelah tiga. 20 jagoan pun mati sekejap mata.

Akhirnya, kami dengan leluasa menjamah pohon mangga. Sayangnya kami tidak menemukan sang raja. Apakah dia ikut mati? Kalau benar, itu berbahaya. Karena gigi emas itu dapat menghidupkan semua koloni yang mati. Bagaimana caranya? Aku sendiri tidak tahu, akan tetapi berita yang beredar seperti itu.

Kami terus mencari di sekeliling pohon.
“Hei, lihat!” seru salah satu rekanku. Dia menunjuk sebuah sarang semut berwarna putih di daun mangga raksasa sebesar badan bagian atasku.

Kami sudah curiga raja ada di sana. Perlahan kami suntik obat bius dengan ekstrak 5x daun jeruk nipis dengan takaran air sabun murni yang seimbang. Tiba-tiba saja, sarang yang tenang itu bergerak liar.

“Lyo, cepat masukan ke dalam kadang!” perintah Captain H.
Segera kukeluarkan kadang dari dalam tas. Beberapa rekanku sibuk membungkus sarang yang masih bergerak itu. Setelah dirasa tidak mungkin lepas, barulah menaruhnya di dalam kandang tertutup.

Sampai disini, aku agak lega.

Setibanya di lab khusus dan APD lengkap, kami membuka kadang. Tidak ada reaksi apa-apa.

“Apa dia mati?”

“Hush! Jangan pesimis dulu.”

Meski begitu, aku yakin ini masih efek obat bius, dengan cekatan memelintir gigi emas tersebut

Dunia pun selamat!

Komentar