Dairy: Double Tap To Undo

                        Picture by Freepik 



Hal yang kulakukan kala suntuk melanda selain menulis adalah menggambar. Sama seperti menulis, apa saja akan kugambar sesuai dengan apa yang terasa. 

Sama seperti malam ini, bersama dinginnya malam dan secangkir teh hangat, jariku mulai menari diatas layar, menyatukan garis-garis sampai menjadi sebuah gambar utuh. Tidak lupa menambahkan warna dasar, shading, dan highlight agar gambar terlihat hidup. 

Tentu dalam proses menggambar, ada sedikit kekeliruan, dan itu mudah saja untuk dihapus. Cukup menggetuk layar 2 kali, maka coretan baru akan hilang dan gambar akan kembali pada coretan awal. Ini tidak seperti menggambar diatas kertas. Bekas yang ada diatas kertas tentu bisa dihapus bersih, kadang juga tidak. 

Kenapa begitu? 

Karena semua tergantung tingkat tekanan yang diterima kertas. Jika saat menggambar tekanan pada kertas sedikit atau halus, atau pada gambar berupa arsiran halus, tentu akan mudah dihapus. Tapi jika tekanan yang diterima kertas begitu kuat, maka ... untuk menghapusnya pun agak sulit, butuh sedikit tekanan. Konsekuensinya, kertas akan kotor dan akan berkerut-kerut. Parahnya, bisa menghancurkan kertas itu sendiri. 

Ini tidak bisa di ketuk 2 kali.
Caranya masih sederhana dan manual. 

Cara menggambar yang berbeda ini seketika membuat jariku refleks terangkat menjauh dari layar. Aku terdiam karena tersadar akan sesuatu; kamu. 

Hal yang kulakukan kala suntuk melanda selain menulis adalah menggambar. Sama seperti menulis, apa saja akan kugambar sesuai dengan apa yang terasa. Saat ini aku sedang dilanda ketidakpastian darimu, maka untuk menenangkan ini, aku butuh pelampiasan dengan menggambar.

Aku ingat hari menyakitkan itu; perpisahan. Sedih sekali mengingatnya. Kisah itu sepertinya tidak tergambar diatas layar melainkan digambar diatas sebuah kanvas yang terlukis dengan tekanan yang sangat dalam, sehingga sulit untuk dihapus. Saking sulitnya dihapus justru itu yang menghancurkan kertas itu sendiri--saking sulitnya menghapus kisah kita, justru itu melukaiku lebih banyak lagi. 

Melukaimu juga, kah? Atau ....

Sayang sekali, ini tidak bisa menggetuk layar 2 kali. 

Seandainya bisa, aku mau kembali ke titik awal dan memperbaiki semuanya; menahanmu untuk tidak pergi. Bagaimanapun caranya tetap akan kuusahakan agar kamu tidak lepas dariku. 

Atau ....

Seandainya bisa, aku mau kembali ke titik awal, dimana kisah ini dimulai. Kisah yang bagai kanvas kosong lalu diberi sedikit arsiran halus. Jika boleh, aku mau kembali ke titik ini. Biarlah ini tetap menjadi arsiran halus yang belum terbentuk apa-apa. Masih sketsa kasar yang kemungkinan untuk diubah masih besar. Dihapus pun tidak akan melukai kertas. 

Aku ingin kembali ke titik ini saja, lantas menahan diri untuk tidak melanjutkan ke tahap berikutnya jika tahu ujungnya akan seperti ini. Aku tidak ingin arsiran halus ini menjadi sketsa utuh yang selanjutnya diwarnai, diberi shading, dan highlight. Tidak butuh banyak timpaan warna yang berlebihan agar elok di mata seakan-akan gambar itu hidup. Seakan-akan kisah ini hidup, meski nyatanya tidak seperti itu. 

Menghapus gambar yang telah diwarnai lebih susah dibandingkan masih arsiran halus-- menghapus bayangmu dan kenangan kita lebih susah dan melukaiku. Melukaimu juga, kah?

Double tap to undo, It won't work on paper.
Our story is not like drawing on a screen.

Komentar