Pesan Untukku dari Masa Lalu untuk Masa Depan

Harusnya aku sudah mengirimkan revisian data yang diminta Pak Supervisor, bukan malah terpaku pada sebuah pesan yang masuk di inbox email. Aku harap ini bukan bagian dari scam, kejahilan hacker, atau semacamnya. Bagaimana tidak, jelas pada subjek tertulis "Dari Aku, Untuk Aku." 

Jantungku berpacu, dingin AC menyelimuti hingga ke tulang meski selimut tebal telah membungkus diriku. Aku sudah siap dengan segala konsekuensi, persetan dengan scam atau hecker, atau semacamnya. Aku penasaran. 

Klik ... Klik ....

Pesan ini sudah dikirim sejak 5 tahun lalu.

5 tahun yang lalu?

Haruskah aku mengucapkan salam?

Huh?

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ini Aku, aku. Ah, lucu sekali. Aku tidak akan bertanya keadaanmu, tapi aku disini berharap semoga keadaanmu jauh lebih baik dari yang aku alami saat aku menuliskan pesan ini.

Dahiku berkerut. 

Aku frustasi. Aku bingung. Aku kecewa. Aku marah. Aku tidak tahu harus apa. Aku gagal tapi aku nggak merasa kalau udah gagal. Maaf sekali aku, jika kamu, maksudku, aku di masa depan, saat baca ini kamu malah kebingungan. Ah, berantakan sekali tulisanku. Aku harap kamu lupa apa yang terjadi pada kita, saat aku menuliskan email ini. Semoga.

Dahiku makin berkerut hingga alisku rasanya sudah menyatu.

Saat aku menuliskan ini, aku berkeyakinan bahwa kamu sudah lupa dengan apa yang terjadi. Entah apa yang akhirnya menyibukkan kita hingga pesan ini sampai padamu dan kamu sudah lupa. 

Baik. Aku memang sudah lupa dan makin penasaran isinya. Apa ini?

Baiklah aku akan mulai bercerita mengingatkan kembali apa yang terjadi, karena kamu lupa, sebelum aku menyampaikan apa yang aku mau. Aku tidak akan memaksamu mewujudkannya, tapi ... seandainya itu bisa kamu lakukan, aku akan sangat berterima kasih.

Sejak masa dimana kita sudah menetapkan pilihan untuk masa depan dan berfokus padanya, aku selalu berusaha untuk mewujudkannya. Tapi aku gagal. Maaf. Mungkin sekarang kamu sudah tidak dengan profesi yang sama-sama kita inginkan. Katakan padaku, apa kita bahagia dengan profesi yang sedang kita jalani sekarang atau bagaimana?

Bahagia? Huh, kuharap begitu. Yang ada sekarang aku stress dengan semua laporan dan tagihan kantor yang tiada habisnya.

Maaf. Kuharap, satu kata itu dapat menyembuhkan lukamu--luka kita. Semuanya seperti abu-abu. Terlalu samar. Penuh kabut. Aku ketakutan. Aku gagal masuk ke beberapa universitas yang kita impikan hingga universitas lokal yang tidak pernah ada dalam daftar impian masuk kampus. Sekalinya lolos, ada aja hambatannya. Aku tidak akan menceritakan hal ini. Aku marah dan kecewa sekali kalau mengingat itu. Lucunya, saat tryout kita malah masuk predikat terbaik, dan aku muak mendapatkan predikat terbaik saat tryout namun gagal saat ujian. 

Aku stress. Maaf. Aku sudah berusaha semampuku tapi aku gagal. Maaf sekali aku tidak bisa mewujudkan apa yang kita mau. Maaf aku gagal. Aku sedang berusaha untuk membuka hati, mencari cita-cita baru, doakan aku. Tapi aku tidak tahu apa. Oh, ya. Entah kenapa aku merasa ingin sekali menguasai banyak bahasa. Aku sudah mendownload beberapa aplikasi untuk improve skill kita. Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang. Aku tidak lagi membuka bank soal, aku muak. Setiap kali melihat benda itu, aku merasa payah dan gagal.

Tunggu dulu. Aku sudah mempelajari banyak bahasa sejak 5 tahun lalu? Oh, serius? Aku bahkan lupa kenapa aku bisa banyak bahasa. Harusnya aku ingat akan ini, inikan sesuatu yang memorable yang tak bisa dilupakan begitu saja. Aku jadi teringat pernah baca sebuah sebuah quotes yang kira-kira seperti ini. 

"Kalau di masa sekarang kamu merasa harus mengerjakan atau mendalami suatu keahlian, kemungkinan dimasa depan kamu membutuhkan itu."

Aku tidak percaya akan quotes ini, tapi setelah membaca sebagian email ini ... Aku harus berpikir 2x untuk membantah quotes tersebut. 

Aku saat ini sangat lelah. Mataku sembab, perih, gatal, dan mungkin sudah mengecil. Mungkin, soalnya aku takut liat wajah payah ini di cermin. Kalau kamu lupa, aku akan ingatkan. Ini tahun kedua gap years dan hampir tiap Minggunya aku menangis. Tidak. Setiap malam. Kita menangis setiap malam. Apa dimasa depan aku masih menangis atau sudah tidak? 

Air mataku meluncur. Aku sudah ingat akan masa kelam itu. Masa yang tidak ingin aku ulangi bahkan, jika boleh, aku tidak ingin anak cucuku kelak merasakannya. Cukup aku saja. Masa di mana aku belajar ikhlas dari lubuk hati yang paling dalam untuk pertama kalinya. Melepaskan yang sudah lama sekali di idam-idamkan.

Kita baik-baik saja, kan? Aku sudah muak lihat nama merah pertanda gagal. Aku juga sudah muak menerima permintaan maaf dari website universitas. Aku muak dengan keadaan. Dunia ini seakan-akan sedang mempermainkan kita. Berat sekali. Aku janji akan mengakhiri ini semua segera mungkin, aku tidak tahu tapi sepertinya ini akan berdampak pada kita di masa depan. Maaf. Aku tidak tahu menuliskan apa saat ini. Aku kecewa sekali. Aku merasa payah. Aku ingin berteriak dan minta tolong, tapi tidak ada yang akan menolong kita selain diri kita sendiri. Itu fakta yang saat ini sedang menamparku dan itu sebabnya aku menuliskan ini.

Sampai disini aku yakin kamu sudah ingat. Maka dari itu, ini yang ingin aku minta untuk kita; Jika kita ternyata kuliah di jurusan dan universitas yang tidak kita inginkan, maka belajarlah dengan tekun dan buatlah diri ini bangga. Jika kita telah bekerja, maka aku minta giatlah. Sesulit apa pekerjaan itu masih lebih baik dibandingkan terombang-ambing dalam ketidakpastian. Jangan biarkan orang lain menyepelekan kita, mari tampar mereka dengan kesuksesan. Menabunglah, dan bahagiakan diri kita. Jangan lupa solat karena itu kunci utama dari segala kebahagiaan. "Kita yang merencanakan, Allah yang menentukan" kita harus terbiasa dengan kata-kata ini, ada banyak hal yang tak bisa kita kendalikan. Kita harus berdamai.

Entah kemana kaki ini akan kulangkahkan, aku harap kamu disana terima dengan lapang dada bahwa kita sudah tidak akan jadi apa yang kita inginkan, tapi dengan ini kita akan menjadi versi terbaik yang pernah ada. Aku janji. Tolong apapun yang terjadi saat aku menuliskan ini jangan sampai terulang kembali di masamu dan jangan sampai ke anak-cucu kita nantinya, tolong berkerja lebih sungguh-sungguh lagi untuk masa depan. Saat aku menuliskan ini, aku berusaha untuk mencapai sesuatu agar bisa menjadi kamu saat kamu membaca email ini. Tidak ada yang peduli pada kita, kita harus lebih peduli pada diri sendiri. Semua luka ini biarlah aku yang tanggung, kamu dimasa depan jangan menanggung hal yang sama. Kita sendirian, dan memang begitu adanya. 

Ku tutup laptop begitu selesai membacanya. Napasku tercekat. Ini sebuah pesan dari masa lalu untuk masa depan, untuk masaku sekarang. Aku sudah benar-benar lupa kejadian itu saking sibuknya bekerja. Hanya waktu yang dapat menyembuhkan luka memang benar.

Kuseka sisa-sisa air mata yang berlinang membasahi pipi, dan kemudian tertegun. Perjalananku menuju saat ini ternyata sangatlah melelahkan. Aku pernah ada di masa terombang-ambing akan jadi apa nantinya, ternyata aku menjadi seseorang yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Semua list dan planning dari A-Z tidak ada satupun yang jadi. Jika ada satu lagi tambahan alfabet, maka alfabet itu diperuntukkan untukku. 

Aku masih tertegun. Helaan napasku rasanya berat dan sesak. Banyak hal yang memenuhi kepalaku. Kalimat-kalimat terakhir email itu terdengar seperti keputusasaan dan menaruh banyak harapan untukku saat ini. Apa yang harus aku lakukan? Oh, mungkin hal yang pertama adalah mengirim revisian data yang diminta Pak Supervisor, selanjutnya mungkin tetap menjalani hidup seperti biasa tanpa perlu memikirkan banyak hal. Mungkin aku tidak perlu banyak membuang waktu untuk stress, fokus ke diri sendiri dan skill-skill yang kiranya berguna untukku nanti. 

Tidak ada yang peduli pada kita, kita harus lebih peduli pada diri sendiri ... Kita sendirian, dan memang begitu adanya. 



Komentar