Sebuah pesawat baling-baling telah terparkir di apron*. Deru mesin baling-baling cukup membuyarkan lamunan seorang gadis bersanggul yang tengah duduk di anjungan. Ditatapnya baling-baling yang masih terputar itu, menyadarkan dirinya tentang perputaran dalam hidupnya.
*Tempat parkir pesawat.
Gadis itu bersandar, kedua tangannya terlipat di dada. Jika dipikir-pikir, dia tidak pernah mencita-citakan untuk berada di sini sebelumnya. Kembali gadis itu mengingat-ingat apa-apa saja yang telah dia lalui sampai berada di posisi yang sekarang sebagai Customer Relation Officer (CRO), pekerjaan yang tidak pernah dia cita-citakan.
Kembali saat dirinya berusia 17 tahun, saat semua hal indah akan terwujud dalam waktu dekat. Ya, pikirnya begitu. Sayang sekali kenyataan pahit malah menamparnya. Berkali-kali dia mencoba untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang dokter, sayang, dia harus gagal.
Perputaran dalam hidup gadis itu seperti baling-baling pesawat yang diamatinya. Setelah gagal mendaftar di universitas agar menjadi seorang dokter, dia malah memilih dunia penerbangan sebagai pelarian masa depan, hanya karena teringat pernah ada kunjungan dari sekolah penerbangan semasa SMA dulu. Butuh waktu 3 tahun setelah masa ambisnya mengejar kedokteran untuk mengingat ini.
"Nda papa, ya, Buk, Pak, kalau Lyra ambil ini?" tanya Lyra, saat makan bersama malam itu.
"Ibu sama Bapak restuin kamu, yang penting kamu tekun, dan paham sama konsekuensi yang akan kamu hadapi."
Restu orang tua dan ketekunan Lyra dalam belajar mengantarkannya bekerja disebuah bandara di daerahnya, dan bekerja di bandara bukanlah hal yang dicita-citakan gadis itu. Bahkan, berkuliah di fakultas kedokteran adalah hal yang masih Lyra cita-citakan. Meski dia tahu, hal itu tidak akan mungkin terjadi lagi.
Kembali pada kehidupan sekarang, dimana penumpang telah turun dari pesawat menuju ke area kedatangan, bersamaan dengan proses boarding penumpang ke pesawat yang lebih besar (tipe Boeing 787 seri 800) tanpa bantuan belalai penghubung melainkan melalui passenger boarding stair*.
*Tangga yang digunakan untuk proses masuk ke pesawat.
Lyra menarik napas panjang, dan menghembuskannya. Dia ingat saat kali pertama berkerja, dan ditugaskan sebagai petugas boarding gate. Tempat dimana dia mulai belajar banyak hal tentang penumpang dan penerbangan. Tentu, teori dasar tentang penerbangan telah didapatinya sewaktu sekolah penerbangan dulu dan praktiknya saat magang, akan tetapi pengalaman yang didapatinya semakin banyak kala dirinya telah diamanahi tanggung jawab sesuai job desk.
Padahal, dulu dia bermimpi berjalan tergesa-gesa di lorong rumah sakit menggunakan jas putih dengan stetoskop yang melingkar di leher, membantu pasien yang butuh pertolongannya. Kini, dia malah lari tergesa-gesa membawa lembaran Manifest* dan Apb** menggunakan rompi hijau, mengejar ground time*** agar pesawat tidak delay. Sebuah keadaan yang tidak pernah dia cita-citakan.
*Lembaran nama-nama penumpang yang telah masuk ke dalam pesawat
**APB (actual passenger onboard): Lembaran serah terima untuk menulis jumlah actual yang masuk ke pesawat.
***Lama waktu yang telah ditentukan untuk menghandle sebuah pesawat.
Cakap dalam menghandle pesawat dan penumpang reguler, Lyra pun tergabung dalam team baru untuk menghandle pesawat dan penumpang charter, membuatnya bertemu dengan orang-orang hebat, saling sharing pengalaman, dan sebagai pelajaran baru dalam hidupnya.
Pengalaman yang ada ini, perlahan membuat Lyra malah jatuh cinta dengan dunia yang hanya dia jadikan sebagai pelarian. Lyra berpikir mungkin tidak apa-apa mencintai pekerjaan yang tidak ada dalam daftar hidupnya. Mulai dari situ, Lyra semakin giat. Kegiatan menghandle charteran tidak setiap hari, maka dia akan kembali menghandle pesawat reguler. Cita-cita akan jadi dokter perlahan tersisihkan, bahkan dia mulai lupa pernah mencita-citakan hal tersebut, dan memiliki cita-cita baru yang masih berhubungan dengan penerbangan.
Pesawat yang tadinya melalukan proses boarding telah bersiap untuk meninggalkan area parkir. Sebuah mobil penggerak telah terhubung dengan pesawat melalui towbar, perlahan bergerak menjauhi area parkir.
Lyra tersenyum. Ternyata dia telah tumbuh sejauh ini. Ketekunan Lyra pun membawanya terpilih menjadi Costumer Relation Officer (CRO). Lyra ingat sekali kejadian itu. Saat seniornya resign mendadak dan posisi CRO kosong, Lyra ditunjuk sebagai pengganti. Padahal, itu adalah posisi yang sangat ditakuti oleh Lyra.
Berawal hanya menjadi backup-an saja, setelah pulang cuti 2 minggu, lagi-lagi Lyra dikejutkan karena ditunjuk langsung oleh koordinator Landside sebagai CRO paten. Dia bukan lagi backup-an yang menghandle 3 job desk, melainkan 1 job desk saja. Dia bersyukur sudah tidak lagi bekerja mobile, tapi ... berada di tempat ini membuatnya khawatir, takut-takut akan ada penumpang yang komplain berat, meskipun sering dia dapati juga di gate tapi menjadi CRO adalah cerita lain.
Inilah alasan kenapa dia memilih duduk dan menenangkan pikiran di anjungan, karena sore-sore begini sudah tidak ada lagi aktivitas disekitar anjungan mengingat pesawat terakhir baru saja lepas landas.
Dalam sepekan terjadi delay panjang karena cuaca buruk. Lyra kewalahan menghadapi penumpang dan berkoordinasi dengan station transit masalah konektingan penumpang. Bayangan itu kembali menghantui Lyra.
"Mba, saya viralkan kamu, ya, kalau saya tidak sampai di tujuan hari ini!" ancam salah satu penumpang, sambil mengarahkan ponsel menyorot Lyra.
Padahal, satu-satu alasan kenapa delay adalah karena cuaca. Pesawat tidak bisa mendarat dan dialihkan ke bandara alternatif mengingat cuaca buruk. Sangat berbahaya jika pesawat mendarat saat kondisi begini. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya, pesawat mendarat akan tetapi ...
Pesawat hari itu dibatalkan karena jam terbang awak pesawat telah habis. Rasanya Lyra mau meloncat sambil menangis. Lagi-lagi penumpang mengerubunginya. Kali ini Lyra tidak sendiri, ada Station Manager yang juga berdiri di depan Lyra.
"Kalian itu hanya tahu berbisnis saja, tidak becus mengurusi penumpang! Kembalikan uang kami detik ini juga!" teriak seorang penumpang, diikuti sahut-sahutan penumpang yang lain.
"Kamu tidak merasakan penderitaan kami. Badan kami mau patah, uang kami habis, hanya karena duduk nunggu pesawatmu saja! Coba kalau kamu jadi kami. Heh, Mba! Kamu akan merasakan apa yang kami rasakan!"
"Viralkan! Viralkan! Viralkan!"
"Bapak-bapak dan Ibu-ibu, harap tenang dulu--"
Bukannya mendengar arahan, Lyra mendapat sorakan kasar dari para penumpang. Blits-blits menyorot wajahnya bahkan ada yang melempar gadis itu dengan air mineral. Hal itu membuat petugas keamanan bandara turun tangan mengamankan oknum.
Mengingat kejadian yang tidak jarang ini membuat bahu gadis bergetar, dadanya sesak, matanya panas. Dia menunduk membuat bulir-bulir air mata itu jatuh di atas rok biru dongkernya. Anjungan sudah kosong melompong, meski begitu dia tetap menahan diri untuk tidak bersuara.
Hal yang dia takuti pun terjadi. Dia hidup bukan untuk ini. Semengerikan itukah kejadian yang harus dia hadapi? Sesulit inikah menuju masa depan baru yang dia cita-citakan?
Ya, Lyra bercita-cita ingin menjadi seorang Station Manager, meskipun dia belum tahu akan menjadi Station Manager maskapai apa, mengingat dirinya hanyalah sebuah staff ground handling* setidaknya dia sudah punya cita-cita dulu. Semua ini bermula saat dirinya menghandle charter pesawat, bertemu dengan orang-orang baik yang suka memberikan masukan-masukan berdasarkan pengalaman mereka. Mereka semua berawal dari staff yang paling rendah, tidak terlihat, bahkan tidak diperhitungkan. Karena kegigihan, ketekunan, dan rasa ingin tahu akan banyak hal tentang apa yang dikerjakan, mengantarkan mereka menjadi sesuatu yang bersinar, dan diperhitungkan.
*Pihak yang bermitra dengan maskapai.
Mereka selalu menasihati Lyra, "Kamu masih muda. Tahan-tahan kalau ada masalah apalagi dalam pekerjaan. Carilah solusi, koordinasikan dengan baik. Stop menyalahkan orang lain apalagi menyalahkan diri sendiri, karena sejatinya kamu lagi dibentuk menjadi sesuatu yang tidak pernah kamu duga di masa depan."
Saat itulah bunga-bunga di hati Lyra mekar. Dia pun punya ambisi menjadi sesuatu yang bersinar meski hanya dengan rompi hijau. Meskipun saat ini, ingin sekali dia melayangkan surat resign karena tidak tahan dengan keadaan.
"Kamu lagi dibentuk, Lyra. Percayalah!"
Teriakan itu berasal dari hatinya. Tubuhnya kembali tegak setelah banyak air mata yang tumpah hingga makeup-nya luntur sempurna. Kalimat itu pula yang membuatnya memilih untuk bertahan bertahan dalam mengejar mimpi yang belum tercapai daripada melayangkan surat resign.
Komentar
Posting Komentar