Aku teringat kali pertama bertemu. Aku teringat bagaimana caramu mengajakku berkenalan sambil mengobrol ringan. Saat bersamamu aku tertawa tiada henti, dan ini membuatku nyaman. Sepertinya kamu tipe yang menyenangkan. Humoris, dan tidak neko-neko.
Aku teringat bagaimana semua alur ini tersusun. Saat pertama rasa itu hadir, dan kisah ini dimulai. Relung hati yang kosong, kering lagi gersang mulai terhujani panah asmara, membuat bunga-bunga itu bermekaran.
Awalnya, kita masih biasa saja layaknya orang kasamaran pada umumnya. Beberapa bulan berjalan, aku mulai melihat sesuatu yang berbeda.
Jika boleh, Tuan, aku mau bertanya.
Kenapa kamu tidak membiarkan emosiku keluar?
Kenapa kamu tidak mendengarkan apa yang ingin aku sampaikan dan malah mengalihkannya ke yang lain? Aku tidak suka diperlakukan seperti ini. Tolonglah mengerti.
Kenapa jika berada di dekatmu, kata-kata yang sudah kususun rapi malah menguap begitu saja?
Kemana perginya semua itu?
Tuan. Aku mau bilang, setelah hubungan ini berlangsung sebenarnya aku tak ingin berada di sekitarmu, bahkan jika boleh, aku tak ingin kamu terbaca di radarku.
Tuan. Dalam hal ini aku membencimu.
Kedua, Tuan. Saat aku berencana untuk tidak berbicara denganmu, mengapa kamu terus berusaha agar ada kata yang keluar dari mulutku?
Kenapa kamu justru membuatku tertawa?!
Lagi-lagi kamu tidak membiarkan emosiku tersalurkan. Padahal bahagia terus itu tidak baik untuk kita. Sesekali kita perlu berisik untuk hubungan ini.
Tuan. Kamu itu tercipta dari apa, sih? Nenek moyangku tercipta dari tanah. Apakah kamu titisan malaikat atau apa?
Ketiga, Tuan. Saat kamu berhasil membuatku nyaman lagi, kenapa kamu malah berpaling? Kenapa kamu bisa membuat situasi seakan baik-baik saja, padahal nyatanya tidak. Tuan. Bagaimana bisa ada banyak rasa yang tercampur di dada, dan semua rasa itu justru membuat keadaan baik-baik saja?
Bahkan aku lupa bahwa seharusnya bukan seperti ini skenario yang kurancang!
Lagi-lagi kamu mengabaikan emosiku, Tuan!
Awal yang kukira menyenangkan ternyata menjadi bumerang.
Tuan. Bahkan aku bisa membenci dan luar biasa nyaman saat di dekatmu. Bagaimana bisa ini terjadi begitu saja?
Kamu mempermainkan emosiku.
Adakah sihir yang kamu rapalkan saat bersamaku?
Begini, Tuan. Aku tidak pernah bermaksud untuk menjadi begitu kasar. Tapi kamu harus tahu, Tuan. Ini amatlah melelahkan. Bagaimana aku bisa begini dan begitu secara bersamaan. Aku yakin ada sihir yang kamu rapalkan dan nenek moyangmu bukan manusia. Entah apa.
Jadi, bagaimana, Tuan, maukah kamu menjelaskan apa yang terjadi atau terus membuatku seperti ini?
Karena dalam skenario yang kubuat, aku tidak perlu repot-repot berada di dekatmu, justru mengabaikanmu adalah hal terbaik. Tapi lagi-lagi kamu bisa membuatku tersenyum. Sial!
Kamu mengabaikan emosiku lagi!
Seketika aku ingin pergi sejauh mungkin, bila perlu ke masa lalu, dimana aku pernah bertemu denganmu. Akan kukatakan pada diriku agar tidak menerimamu yang suka mengabaikan emosi.
Aku hanya tidak suka jika emosiku tidak tersampaikan. Sederhana dan kamu tidak bisa melakukannya. Kamu hanya tahu cara membuatku tersenyum dan tertawa. Padahal emosiku bukan cuma itu saja.
Tidakkah anda mengerti, Tuan?
Aku selalu tahu kamu punya cara sendiri untuk membuatku nyaman seiring moodku berubah. Inilah alasan kenapa aku memilihmu, Tuan. Kamu begitu berarti. Hanya saja yang satu ini tidak bisa aku terima. Jadi mari tutup saja halaman yang kamu mau hanya penuh tawa saja ini.
Padahal, hubungan bukan tentang tertawa dan tersenyum saja.
Komentar
Posting Komentar