Aku terjaga sepanjang malam, mengadu pada bulan tentang dirimu, sesekali bergumam, "Aku harap, dia merindukanku juga."
Bulan hanya tersenyum, tanpa lelahnya mendengar semua keluh-kesahku.
Pada kesempatan lain, saat berkumpul dengan 4 teman di sebuah cafe. Kamu tahu? Sekelilingku sangatlah ramai, bahkan teman-temanku tertawa terbahak-bahak hingga mengundang perhatian sekitar, tapi kamu tahu? Pikiranku melayang jauh, mencari keberadaan dirimu dalam memori yang kubuat. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk menghubungi dirimu terlebih dahulu, meski pesanku ini tak pernah terkirim.
Jangan salahkan aku karena tak cukup nyali untuk melakukannya. Tolong, ini sudah membuatku merasa tidak baik-baik saja.
Selanjutnya, aku mulai mengkhayalkan keberadaan dirimu saat di kamar, saat aku juga melakukannya; menatap langit-langit kamar.
"Hai kamu. Apakah kamu tidak bosan? Ayo, keluar! Kita jalan-jalan menikmati padatnya jalanan kota di sore hari." Ingin sekali aku mengirimkannya padamu, daripada sekadar berkata pada langit-langit kamar yang ... tidak akan terdengar olehmu.
Perlahan, aku mulai merutuki diri sendiri, karena sudah beberapa malam; dimana aku mulai menangis dan berteriak pada langit bahwa aku sangat merindukanmu. Jadi, kamu. Apakah langit-langit kamarmu terlihat membosankan seperti langit-langit kamarku? Kalau begitu ... tidak. Kamu tidak akan mendengarkannya.
Setelah beberapa malam terjaga. Akhirnya, aku memutuskan untuk bangun lebih awal, mungkin banyak aktivitas di pagi hari dapat membawaku melupakanmu. Sayangnya, aku malah berdiri dan berbicara dengan matahari, betapa aku sangat rindu pada hangat pelukan terakhir darimu, tetapi matahari tak merespon. Aku mulai berpikir bahwa ... dirimu berada dalam dekapan yang lain, yang lebih hangat dari yang aku ciptakan. Aku mulai menangis lagi, kali ini di depan cermin karena aku tidak menemukan jawabannya. Sejujurnya, aku terlalu sibuk dengan pikiranku hingga semua menjadi seperti ini.
Sepertinya, kamu memang sudah melupakanku. Jika begitu, apakah kamu sedang dalam hubungan rahasia dengan seseorang lain? Karena memikirkanmu, membuatku sulit berkerja. Lagi-lagi, aku kembali menatap langit-langit kamar, mengkhayalkan kamu sedang melakukan hal serupa denganku.
Apakah kamu bosan?
Apakah kamu menatapnya sepanjang waktu sembari mengingat-ingat kisah kita? Karena hampir setiap malam aku melakukannya dan berakhir menangis karena tak bisa menyampaikan rasa rindu ini padamu. Jadi, apakah kamu bosan? Jika iya, maka kembalilah. Ayo, habiskan waktu petang ini sembari menikmati padatnya jalan.
Setelahnya mari sama-sama melihat langit-langit kamar. Aku penasaran, apa yang kamu bayangkan? Apakah kamu memikirkanku juga atau bagaimana?
Karena aku disini selalu begitu saat melihat langit-langit kamar. Bukan warna putih gading yang tertangkap mataku, tapi wajahmu.
Namun semua itu buyar, karena aku yakin kamu tidak memikirkanku melainkan dia yang sudah mengisi hari-harimu setelah aku. Asal kamu tahu, langit-langit kamarku jadi membosankan gara-gara kamu.
Aku kembali terjaga beberapa malam, mengulangi rutinitas yang sama; berbicara pada bulan dan matahari. Betapa aku sangat rindu pada hangat pelukan terakhir darimu, tetapi matahari tak merespon. Aku mulai berpikir bahwa ... dirimu berada dalam dekapan yang lain, yang lebih hangat dari yang aku ciptakan. Aku mulai menangis lagi, kali ini di depan cermin karena aku tidak menemukan jawabannya. Sejujurnya, aku terlalu sibuk dengan pikiranku hingga semua menjadi seperti ini.
Sepertinya, kamu memang sudah melupakanku. Jika begitu, apakah kamu sedang dalam hubungan rahasia dengan seseorang lain? Karena memikirkanmu, membuatku sulit berkerja. Lagi-lagi, aku kembali menatap langit-langit kamar, mengkhayalkan kamu sedang melakukan hal serupa denganku.
Apakah kamu bosan?
Sekali lagi pertanyaanku, apakah langit-langit kamarmu terlihat membosankan?
Aku disini menunggumu bercerita.
Komentar
Posting Komentar