Curcol things!

Hujan. Kalau tiba-tiba terik, artinya matahari lagi singgah. Sebagaimana menurut KBBI, singgah adalah berhenti sebentar di suatu tempat ketika dalam perjalanan; mampir. 
Ya, cuma sebentar. 

Nanti juga sudah tidak terik lagi alias mendung. Khusus pertengahan tahun ini, mendung bukan berarti tanda akan turun hujan, tapi memang akan terjadi hujan. Itu sudah pasti. 

Segeralah menyiapkan payung, atau apapun itu untuk melindungi dirimu dari basah. Tapi sayang sekali, kaki ini tetap basah tergenang banjir. Tidak apa-apa yang penting kepala terlindungi.

Oh, ngomong-ngomong soal hujan. Dulu waktu kecil aku suka sekali mandi hujan. Rasanya sangat menyenangkan begitu air langit menyentuh kulit. Berlarian kesana kemari, tidak takut akan genangan air. Tertawa menyamakan suara dengan derasnya hujan. Pokoknya, seru, deh!

Kemudian ketika remaja--sekarang juga masih remaja, sih-- hujan menjadi sesuatu hal yang sangat dinantikan. Teringat akan dia, lah. Jadi pengin makan mie, lah. Kepengin rebahan seharian, lah. Um, macam-macam deh pokoknya!

Pokonya hujan itu sangat menyenangkan!

Namun kemudian, semua itu berubah saat negara api menyerang!

*Bukan Avatar.

Semenjak menginjakan kaki di dunia pekerjaan, terutama dunia aviasi. Hujan bukanlah hal yang menyenangkan. Aku bahkan berdoa sangat deras melibihi butir-butir air yang jatuh mencium bumi saking tidak ingin terjadinya hujan, meskipun ini diluar kendali. 

Melihat citra satelit dan perkiraan cuaca beberapa jam kedepan adalah hal yang sering kulakukan dan juga menakutkan. Pesawat-pesawat tidak bisa mendarat jika jarak pandang dibawah standar minimal, alhasil, pesawat akan dialihkan ke bandara alternatif, dan otomatis delay karena cuaca. Kapan diberangkatkan? Ya, sampai cuaca membaik, tapi bukan berarti menunggu sampai langit terang, ya! Ahahaha. Bisa lama itu. Minimal sampai jarak pandang diatas minimal kelayakan terbang. 

Apakah penumpang akan mengamuk?

Oh, tentu saja. Bagus kalau masih satu maskapai, kalau tidak, ya ... hancur! Mengamuk karena tidak mau tahu, harus berangkat sesuai dengan jadwal penerbangan. 

"Bilangin, ke pilotnya. Cepat mendarat!"

Eh, buset! 

Padahal ini sangat berbahaya lho. 

Tapi, ada beberapa penumpang yang memang mengerti, ini cuaca, tidak bisa dipaksakan. Tiap beberapa menit, jam, pasti arah angin berubah dan itu mempengaruhi posisi awan. Tidak ada yang tahu pasti dan hanya bisa memprediksi. Ya, mau gimana lagi. Tipe penumpang yang legowo. Kalau dijelasin nyambung, dan bahkan saling sharing tentang dunia aviasi. Seru banget kalau ketemu penumpang seperti ini. 

Ups. Aku tidak bermaksud membeda-bedakan penumpang, ya. Tapi memang begitulah yang terjadi dan memang begitulah adanya. Meski begitu, mari nikmati saja. 

Inilah tentang hujan dalam pekerjaan, khususnya aviasi. Aku pribadi sangat tidak ingin hujan, bukan berarti tidak mensyukuri berkah Tuhan, hanya saja jadi was-was, gelisah tak menentu.

Ngomong-ngomong soal berkah Tuhan, dalam hal ini hujan, dalam Al-Qur'an dijelaskan lho, 

"Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS Qaaf ayat 9)

Dari sini kita jadi tahu kalau hujan ada manfaatnya, yakni sebagai sumber kehidupan. Maka dari itu, saat hujan kita dianjurkan untuk berdoa:

Allahumma ṣayyiban nāfi'ā

Artinya: "Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat."

Tapi apa manfaat hujan?

Banyak; mengairi tanaman, mengisi kembali air tanah, menjaga keseimbangan ekosistem, menyediakan sumber energi, membersihkan udara, mengurangi erosi tanah, dan memperindah pemandangan.

Yap!

Apalagi ya, yang mau dibahas tentang jika ini? 

Ada juga novel tentang Hujan. Sudah baca? 
Siapa disini yang naksir karakter Esok?
Fix, kamu sainganku. 

Penggambaran karakter Esok dan Lail juga cara bang tere memainkan kata-kata tuh, yang bikin emosi pembaca naik turun, gemas, pokoknya komplit deh. 


Sudah. Begitu saja curcol kali ini. Sekian

Komentar