Curcol Things: Sepekan!

Semua ini berawal dari writer's blok dan delay!
Aku kehabisan ide mau menulis apa lagi waktu itu. Aku buntu. Biasanya, main Instagram sebentar, atau dengar lagu, cari-cari buku iPus. Langsung dapat ide. Tapi kali ini tidak! Aku coba mengalihkan ke yang lain. Kebetulan ada kegiatan di grup malam itu. Kali saja dapat inspirasi. Tapi nihil.

Padahal, aku sudah berjanji untuk tidak punya utang menulis sejak pekan pertama ngerasain dikejar deadline. 3 pekan berikutnya aku berusaha untuk mengerjakan tepat waktu. Masuk pekan terakhir, malah buntu. Aku takut sekali. Ini sudah diakhir kalau gagal sayang sekali. 

Hampir tiap malam aku merenung, apa yang salah padaku? Aku pengin lolos jadi anggota ODOP. Sayang sekali hanya perkara writer's blok malah gagal pada detik-detik terakhir. 

Apakah tempoku terlalu cepat untuk takaran seorang penulis yang baru bangun dari hiatus? Atau apa? Aku bingung. Kemudian aku mulai curcol di grup Arnhemia. Aku sangat sayang mereka sekali. Kumpulan orang-orang baik dan terus mengasah diri. 

Aku jadi ingat tahun lalu, saat aku berdoa agar bertemu dengan orang-orang yang dapat tumbuh bersamaku. Aku rasa doaku terkabul sejak bertemu dengan orang-orang ini. 

Kalau kalian warga Arnhemia lagi baca ini. Seriusan, aku merasa beruntung bertemu kakak-kakak. 

Belum lagi masalah writer's blok. Kini, masalah lain muncul dari dunia pekerjaan. Delay karena cuaca. Sial! Aku pengin berteriak. Memang di tempatku lagi musim hujan ganas. Tidak tahu kapan akan berhenti, dan inilah ketakutan terbesarku. 

Satu hal yang paling kutakuti adalah tulisan-tulisanku tidak bisa ku pegang. Aku tidak mau lagi Hiatus. Aku sudah bertekad untuk kembali menulis dan memublikasikannya. Terhitung sejak awal bulan Juni. Aku pegang 2 tulisan; blog ini dan naskah on going di web Gramedia Writing Project. Fokusku, ya, blog ini. Lalu aku menyadari sesuatu. 

Mungkin kesalahanku disini. Harusnya sebagai penulis yang baru bangun, baiknya pegang satu tulisan saja dulu. Memperbiasakan diri dulu, baru selanjutnya kalau sudah terbiasa, baru mulai pegang dia naskah. 

Tapi aku memang doyan selingkuh naskah. Maaf sekali. Ini pengakuan dosaku. Bukan, apa. Tapi seru banget rasanya. Ada euforianya sendiri gitu.

Perlahan, aku sudah tidak lagi fokus ke naskah yg di gwp. Ternyata doyan selingkuh naskah bukan berarti kuat selingkuh. Ujung-ujungnya tetap setia pada satu yang pasti. 

Nah, sekarang aku sedih karena satu yang pasti ini berada di ujung tanduk! Tuhan tolong. Hatiku menjerit minta ampun!

Pekerjaan yang tidak bisa ditinggal dan tulisan yang selalu ingin kupublish. Rasanya sangat menantang dan melelahkan. Tapi apa yang harus diperbuat selain menjalaninya? Inikan, keputusan yang kubuat sendiri. 

Lagi-lagi aku mulai mengutuk diri. Sial!

Pengin teriak sekuat-kuatnya. 
Aku jadi kepikiran untuk nikah dengan orang kaya agar aku bisa fokus pada tulisanku tanpa memikirkan hal yang lain. Doakan semoga saja ini terkabulkan. 

Kemudian, tidak terasa akhir pekan sudah ada diujung tanduk. Aku kembali ngos-ngosan mengejar keterlambatan. Semua ini karena writer's blok dan delay! Tulisan-tulisanku jadi ikut delay. 

Aku tidak mencari siapa yang salah dan aku yang benar. Tidak. Aku hanya berkeluh kesah saja. Doakan aku kuat dan tidur dengan tenang. Sudah di penghujung begini, nanggung rasanya kalau gagal. Sampai itu terjadi, mungkin aku akan menangis seharian. Tidak mood berbuat apa-apa.

Komentar