Writing is Healing. It's Future investment!

Halo-halo ....
Sebelumnya, jika kalian sudah pernah membaca tulisan di blog ini, maka kuucapkan terima kasih banyak, Thank you very much, شكراً جزيلاً, спасибо, danke~

Jujur saja, di bulan ini kumantapkan diri untuk menulis di sebuah pelataran yang berbeda dari tulisanku sebelumnya. Oya, mari berkenalan dulu.

Aku ingin orang-orang mengenalku dengan nama Dadar, kalau mau lebih cute; Darling. Itu nama pena. Nama ini kudapatkan semasa sekolah. Yup, teman-temanku--entah siapa orangnya, aku tidak ingat. Tiba-tiba serempak aja beberapa orang terdekat memanggilku seperti itu-- yang memberikan nama itu. Terdengar unik, bukan? Atau justru kalian merasa lapar?

Hehehe.

Ngomong-ngomong, aku sudah mulai menulis sejak lama. Bermula dari ketertarikanku pada tulisan Luna Torashyngu, Esti Kinasih, dan banyak lagi, dari sanalah aku mulai penasaran bagaimana orang-orang ini bisa menuliskan sesuatu yang bisa membuatku masuk dalam tulisan mereka? Rasanya seperti aku yang jadi tokoh utamanya. Hahaha. 

Kemudian kubuat sebuah cerita remaja yang ditulis di buku kosong dan minta tolong beberapa teman sekelas buat baca. Kala itu, aku masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah kelas 9. Mereka excited sekali, dan aku sangat senang. Saat itu aku belum mengerti apa-apa tentang dunia tulis-menulis, hanya sekedar menulis saja menuntaskan rasa penasaran.

Beberapa tahun kemudian, semasa menjadi murid di Madrasah Aliyah, kelas 11, aku tergabung dalam Kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR). Kali ini tulisannya agak berat karena tulisan yang kami buat lebih berfokus pada Karangan Ilmiah. Tentu ini jadi ilmu sekaligus tantangan buatku yang lebih condong ke fiksi remaja. Kebanyakan baca novel, sih! Ehehehe.

Aku juga pernah ikut lomba resensi novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Alhamdulillah masuk harapan 3. Setidaknya, bawa pulang sertifikat lomba ke rumah. 

Pengakuan dosa; Pembina kami tahu betul jika tulisanku lebih condong ke fiksi, maka aku diminta untuk membuat sebuah cerpen tentang kearifan lokal untuk mewakili sekolah kala itu. Sialnya, aku kena writer's blok! 

Dulu aku belum tahu kalau udah mentok dan tidak tahu harus menulis apa, namanya writer's block. Sebanyak apapun tulisan yang kubaca tentang tema terkait, tetap saja aku tidak menemukan gambaran sama sekali hingga deadline! Nangis, malu, kesal, ugh pokok e, campur aduklah!

Setelah itu, aku tidak lagi fokus ke KIR karena sudah kelas 12. Waktunya fokus buat ujian kelulusan! Tapi tetap nulis sih, di notes. Kebiasaanku dari dulu; apa yang terasa akan kutuangkan untuk mengurangi emotional baggage. Dulu aku tidak tahu kalau menulis adalah bagian dari healing hingga sebuah kejadian luar biasa mengguncang jiwaku. Agak lebay, ya? Tapi ini seriusan!

Pertengahan sampai menuju akhir tahun 2019, adalah fase-fase dimana aku merasa sangat jatuh. Aku seperti kehilangan jati diri dan kehilangan arah. Tidak mendapatkan apa yang diidam-idamkan sejak kecil membuatku hancur sekali kala itu. Aku tetap menulis, mengutarakan apa yang kurasa saat aku tidak mempercayai siapapun untuk mendengarkan keluh-kesahku. Hanya aku dan tulisanku sampai aku ikhlas dan menerima keadaan. 

Oh, tentu perjalanan ini tidak sesimpel yang kalian baca, ya, sobat! Pokok e, begitulah. Kemudian aku berpikir untuk larut dalam kesendirian tanpa mau berhubungan lagi dengan buku bank soal dan cita-cita. 

Bagaimana caranya? Ya, menulis lagi!

Aku mengunduh aplikasi wattpad, memulai tulisan pertamaku di sana. Aku bertekad ingin menjadi penulis Fantasi setelah membaca cerita Little Magacal Piya yang ditulis oleh Cindyana H, dan menonton semua serial Harry Potter dan Narnia. 

Jujur, menulis itu sangat menyenangkan! 
Aku mulai belajar hal baru lagi setelah riset bagaimana cara menulis karangan fantasi, yang membuatku excited kembali! 

Aku benar-benar larut.

Awal tahun 2020, aku memberikan diri untuk daftar sebuah event bersama Penerbit semi mayor. Alhamdulillah aku lolos tapi bukan dengan tulisan yang bergenre fantasi, melainkan fiksi remaja. Yup, aku tidak bisa lepas dari genre itu, dari sanalah aku bertemu dengan orang-orang yang sekufu.

Semua yang baru kalian baca adalah awal perjalananku dalam dunia tulis-menulis yang membawaku tergabung dalam banyak event dan komunitas menulis lainnya sampai sekarang, sampai kalian membaca tulisan ini.

Menulis menjadi sesuatu yang sangat berharga dan sudah menjadi bagian dari hidupku. Keinginanku kala itu untuk larut dalam menulis, mengantarkanku pada posisiku sekarang ini. Seandainya saat itu aku tidak memutuskan hal tersebut, mungkin aku masih dibayang-bayangi kesedihan yang amat dalam. Aku sudah melupakan cita-cita yang kukejar karena menulis, dan menerima apa yang kukerjakan sekarang karena menulis pula. Oh, tentu saja ada campur tangan Allah di dalamnya. 

Dari sanalah aku tahu jika menulis merupakan bagian dari healing, tapi apakah menulis hanya sebatas itu?

Awalnya, aku menulis karena penasaran. Kemudian, seiring berjalannya waktu menulis untuk healing. Kalau sekarang ditanya lagi menulis karena apa? Ya, karena sudah jadi kebiasaan. Ahahaha.

Aku tentu, akan terus mengembangkan tulisanku. Aku sudah mencoba beberapa platform menulis, dan nge-blog adalah incaranku selanjutnya. Kemudian, setelah mahir nge-blog, mungkin aku akan mencoba memulai dengan membuat cerita anak. Ahahaha. 

Sebenarnya memperluas jaringan dalam dunia tulis-menulis adalah sebuah investasi jika suatu saat aku memutuskan untuk tidak lagi bekerja dan fokus ke keluarga kecilku nanti. Akan tapi sebagai orang yang sudah biasa sibuk kantoran, pasti akan rindu kesibukan, kan? Maka dari itu ini adalah investasi yang sangat menjanjikan. 

Nah, sebelum investasi kan, harus ada modal dulu. Jadi, dari sekarang aku sedang menyiapkan modal untuk investasi masa depan. Ini adalah perencanaan jangka panjang, jangka pendeknya? 

Aku tidak muluk-muluk sih; bisa menulis tiap hari tanpa drama writer's block aja, dengan begitu aku bisa menamatkan semua cerita yang kupublish di platform menulis, memperdalam ilmu nge-blog. Rasanya udah bahagia sekali. Apalagi kalau ada karyaku yang naik cetak dan mudah-mudahan masuk Gramedia. 

Uhuy ... menghayal ini membuatku terbang!

Ya, kira-kira seperti itulah perjalananku dalam dunia yang sunyi dilihat tapi ramai di kepala hingga membuatmu tidak sadar bahwa kamu telah pindah ke dimensi lain tanpa harus menginjakkan kaki ke tanah. Sekian cuap-cuapku kali ini sampai jumpa!

Komentar