Yang takut akan masa depan, kini sudah beranjak dewasa. Tak terasa banyak musim yang dia lewati. Raganya begitu lelah, jiwanya begitu rapuh untuk berdiri di atas ketidakpastian yang membuatnya tidak bisa melihat pelangi, bahkan biru langit pun malu menampakkan diri.
Kenyataan menggores relung hatinya, alam bawah sadar menjebaknya. Dia kehilangan arah dan tumbuh dengan luka seorang diri. Siapakah teman yang sering mendengar keluh kesahnya? Tiada orang yang mau berbagi cerita. Salut, dirinya begitu kuat dengan jiwa-jiwa rapuh itu.
Adakah yang mengerti? Ketidakpastian menimpa dirinya. Kala sebaya bersukacita dengan satu tangga lebih tinggi, diri itu tetap di tempatnya. Dia merenung apa yang terjadi? Dia hanya bisa menyaksikan ketidakadilan, padahal dia juga berjuang sama kerasnya. Dia mulai bertanya-tanya, "dimana letak kesalahanku?" Tidak ada yang menjawab, suara-suara yang dibencinya bergemuruh.
Kenapa ketidakadilan ini menghukumnya? Kerisauan itu berubah menjadi bisikan jahat.
Dia tidak bisa menutup mata dan telinga.
Semakin dia lihat, semakin dia dengar, rasanya makin tidak adil. Semakin tersiksa.
"Hanya aku sajakah atau ada lagi orang selain aku yang merasakan ketidakadilan ini?" Tidak ada jawaban, selain suara bergemuruh itu hadir bagai mimpi buruk. Dia berteriak, berharap semua ini berakhir.
Bahkan warna di sekeliling tidak mendukungnya. Abu-abu adalah warna yang suram, sesuram tiga masa yang berhasil ia lewati. Oh, warna telah berubah, artinya ini gilirannya setelah sekian lama. Apakah ini berkat teriakannya?
Kejutan masa depan begitu dramatis. Yang membersamainya kini bukanlah yang ia pikirkan sebelumnya. Ini hadiah! Hadiah yang penuh misteri dan masih menjadi misteri, maka doa dilangitkan mengetuk pintu-pintu langit. Berharap 3 masa yang telah terlewati tidak terulang. Berharap kebaikan namun ia sadar selalu ada tantangan.
Maka dia menerima tantangan itu. Toh, sejak awal dia sudah ditantang oleh kehidupan.
Dia mulai menyesuaikan diri dan menemukan sesuatu yang baru. Dia merasa hidup; hal yang dia idam-idamkan sejak lama. Meski begitu dia tahu konsekuensinya. 3 masa terlewati, banyak hal yang dia pelajari. Hal baik dan hal buruk datang beriringan. Selalu ada tantangan dibalik kejutan yang dia terima. Hal yang membuatnya hidup menjadi tantangan buatnya.
Kini dia kelelahan, meski begitu tantangan hidup masih jauh lebih berarti dibandingkan tiga masa suram lagi kelabu. Mungkin dia hanya belum terbiasa, dan hanya memerlukan waktu untuk berkembang.
Komentar
Posting Komentar