Temanku Suka Kamu

*Part 2

Harapan-harapan yang telah layu mendadak tumbuh subur. Akhirnya, siapa yang bersembunyi dibalik topeng "Dia" akan terungkap, tapi tunggu dulu, kenapa setelah 3 bulan baru berani melangkah lagi? Apa dia benar-benar pemalu? 

1 jam, 2 jam, 3 jam. Tidak ada pesan masuk dari nomor baru yang mampir ke ponselku, bahkan sampai keesokan harinya saat tiba di kantor. Lagi-lagi Vivi tidak membahasnya seolah tidak terjadi apapun. Aku mulai curiga, apa mungkin Vivi mempermainkanku? Vivi yang memulai semua ini hingga aku merasa konyol karenanya. Baiklah, aku tidak akan terjebak lagi. 

Berhari-hari setelahnya, aku tidak lagi menjalankan misi memperhatikan satu persatu di ruangan, aku tidak lagi menaruh curiga ke Vivi. aku sudah benar-benar lupa sampai 4 bulan berikutnya, saat Vivi mengantarkanku pulang, untuk pertama kalinya Vivi membahas tentang "Dia" yang terlupakan.

"Dia sudah pindah, ya?"

"Siapa?"

"Ha?" Keterkejutannya mengingatkanku pada kali pertama Vivi mengumumkan bahwa temannya suka padaku.

"Siapa?" 

"Dia tidak pamit memangnya?"

"Dia siapa yang kamu maksud?"

"Dia yang waktu itu minta nomormu di aku."

Aku memutar bola mata. "Oh."

"Oh?" Aku melirik Vivi yang sepertinya tidak habis pikir dengan jawabanku. "Dia ngechat kamu, kan?"

"Enggak. Um, lagian malam itu tidak ada nomor baru yang chat. Aku pikir kamu bohong, Vi."

"Astaga. Serius? Aku lihat kalian dekat banget di kantor. Aku pikir itu sukses."

"Lho?" Aku kembali mengingat-ngingat pria mana yang paling dekat denganku di kantor. "Vi. Let's make it clear. Dia ini siapa? Soalnya aku enggak pernah merasa di dekati oleh siapapun."

Vivi menatapku dengan sejuta kebingungan, kemudian memalingkan kembali wajahnya ke depan. "Mas Rian. He likes you. He's gonna make you his wife."

"Ha?!" Napasku habis. Bumi sepertinya tidak lagi memproduksi Oksigen. Semua lembaran yang ada di dalam laci ingatan seperti dibongkar paksa. Aku mendadak lupa dimana titik yang harus dipetakan menjadi titik awal dan titik akhir. 

Mari kita satukan potongan puzzle ini. 

Pertama, Vivi datang dengan berita bahwa ada temannya yang menyukaiku. Aku tidak tahu siapa. Tapi fakta barusan sangat membingungkan. Mas Rian? Dia memang sering masuk ke dalam ruangan, dan biasa saja kurasa. Apakah dia menjadi agak sensitif? Tidak juga, itu tidak terbaca di radarku. Ada beberapa orang yang berada di sekelilingku dan memang tidak punya nomor ponselku, dan Mas Rian memang salah satunya tapi setelah itu dia minta sendiri dan bukan dari Vivi. Mas Rian sempat beberapa kali ngechat, err, lebih tepatnya balas story yang kubuat, dan itu tidak membedakan Mas Rian dengan yang lain. Jadi aku tidak salah, kan, kalau tidak menaruh rasa curiga ke Mas Rian? Dan sekarang, Mas Rian pindah? Kapan? 
Kalau dia suka, kenapa dia tidak bilang?
Kalau dia suka, kenapa dia tidak pamit? 

"Vi. Th-this is not true, right?"

Vivi hanya terdiam.

"Dia hanya penasaran, Vi. Kalau dia suka dan anggap kami dekat, kenapa dia tidak pamit? Aku enggak tahu kalau dia suka aku." 

Terlihat kesedihan di wajah Vivi. Aku tidak tahu apa lagi yang dia simpan, aku merasa pasti dia punya alasan sendiri kenapa tidak begitu banyak membahas tentang ini. Aku mencoba menghiburnya meskipun yang harus dihibur adalah aku.

Dikamar.
Aku menatap langit-langit kamar sambil mencoba menyatukan potongan cerita yang tak terbaca olehku. Mas Rian memang sudah berusia 30-an, mampan dan belum menikah. Orangnya ramah, gesit, dan cekatan dalam pekerjaan. Tapi, aku tidak pernah merasa di dekati olehnya. Rasanya aneh. Seperti kamu meyakini tidak ada yang lewat, tapi temanmu bilang ada yang lewat dan kamu tidak menyadari itu. 

Berbulan-bulan setelah mengetahui fakta tersebut. Aku makin rajin bikin story WA, hanya untuk caper ke Mas Rian, setelah dia melihat storyku rasanya sangat menyenangkan. Tapi itu hanya berlaku 2 bulan, bulan berikutnya sudah tidak lagi. Kadang dia lihat, seminggu kemudian menghilang, setelah itu muncul lagi, dan begitu terus. Aku merasa dipermainkan. 

Mas Rian memang tidak pernah memberikan pernyataan apapun, tapi pernyataan dari Vivi membuatku sedikit berharap Mas Rian mau menyampaikannya langsung dan juga permintaan maaf karena tidak pamit. Terkesan aku sangat obsesi terhadapnya, akan tetapi dalam hal ini Mas Rian salah. Dia membiarkanku kebingungan, dan fakta yang kudapati ketika dia sudah pergi tanpa pamit. Dia harus tetap minta maaf.

Pada suatu ketika Mas Rian membuat story WA untuk pertama kalinya. Isinya tentang perusahaan baru tempat dia kerja. Aku coba untuk balas storynya.

"Mas. Udah pindah, ya?"

"Sudah, Mbak. Mohon maaf jika selama interaksi di sana ada kata dan perbuatan yang kurang berkenan. Terimakasih atas bantuan dan kerjasamanya selama ini."

Balasan yang ... Cukup membuatku tersenyum getir. 

Sudah, begitu saja? 

Maksudku, apa tidak ada kalimat yang lebih bagus lagi? 

Oh, sudahlah. Aku tidak berniat membalas lagi. Jadi memang benar dugaanku dari awal; definisi dari kata "suka" yang dimaksud ialah hanya sekadar penasaran, tertarik, dan tidak mungkin lebih daripada itu. Selama ini aku terlalu banyak membuang waktu dan terlalu banyak menaruh ekspektasi padamu.

                                -The End-

Komentar