"Temanku suka kamu.”
Aku tidak ingat kapan terakhir kali mendengar pernyataan itu. Rasanya sudah lama sekali, dan tidak ada yang sebegitu mengejutkan sampai pernyataan itu keluar dari mulut Vivi. “Kenapa aku?”
“Lho?” Alisnya bertaut.
“Aku kenal?”
“Ya. Dia sering di sini.”
Aku mulai mengingat wajah-wajah yg sering meramaikan ruangan ini. Bagaimana caraku mensortirnya? Gelagat mereka semua sama, lagipula tidak ada yang mendadak jaim atau bersikap lebih kepadaku. Semuanya sama.
“Apa dia pemalu?”
Vivi menggeleng. “Dia hanya sedikit sensitif berada di dekatmu.”
Seperti putri malu? Ah, tentu saja tidak mungkin. Masih sulit bagiku untuk menerka.
"Gimana kalau kamu kasih tau aja?"
Vivi menggeleng. “Nanti kamu tau sendiri.”
Kurang lebih itu adalah percakapanku dengan Vivi 3 bulan yang lalu. Semenjak saat itu tidak ada lagi percakapan yang mengarah ke sana, padahal aku sangat menanti-nantikannya. Aku juga mulai memperhatikan satu persatu dari mereka. Memperhatikan dengan sangat jeli. Namun nihil. Mereka semua sama.
Aku tidak berniat menanyakan ini pada Vivi, akan terkesan bahwa aku sangat penasaran dan segera ingin tahu, jadi Aku mutuskan untuk menyerah saja, berpura-pura lupa meski nyatanya ini hampir menggangguku setiap malam, sampai aku tiba pada kesimpulan, mungkin definisi dari kata “suka” yang dimaksud ialah hanya sekadar penasaran, tertarik, dan tidak mungkin lebih daripada itu.
Ya, dia hanya ingin mencari tahu. 3 bulan ini harusnya cukup jika ingin mencari tahu lalu menginginkan sesuatu yang lebih, tapi kalau begini saja berarti memang dia hanya sekadar penasaran. Aku kemudian merutuki diri sendiri, mendadak merasa konyol hanya karena 3 kata saja membuatku kepikiran selama 3 bulan ini.
Baiklah, ini sudah diluar nalar. Ayo, benar-benar kembali seperti sebelumnya seolah tidak pernah mendengar 3 kata itu.
Namun, sayang sekali. Ketika niat baru saja ditetapkan dan akan segera terlaksana. Sebuah pesan masuk dari Vivi. “Dia minta nomormu. Aku kasih, ya?”
Jantungku berdegup amatlah kencang, dan makin berdegup kencang hingga rasanya ingin meleleh, ketika pesan berikutnya masuk. “Aku hanya bilang aja, tidak butuh persetujuanmu. Nomormu sudah aku kasih ke dia.”
Oh, Tuhan. Kenapa aku terbawa perasaan seperti ini?
.
.
Bersambung part 2
Komentar
Posting Komentar