Samudera dan Aku

Orang-orang berlayar dengan jalurnya masing-masing. Aku sangat paham akan teori sederhana itu. Aku pun begitu, berlayar dengan jalurku. Sebelum berlayar, tentu aku menyiapkan banyak hal. Samudera itu luas, dan aku sangat ambisius untuk menjelajahinya.

Waktunya tiba mengangkat jangkar, menjelajahi dunia, melewati samudera. Namun, tidak ada yang memberitahukan tentang ini kepadaku.

Mereka tidak pernah bilang kepadaku bahwa dahsyatnya ombak dapat membuatmu merengek seperti bayi. Meskipun segalanya telah kupersiapkan dengan baik, tetap saja aku masih bingung harus bagaimana. Berlayar di samudra lepas dan tak kunjung menemukan pulau, membuatku ingin kembali pulang. Tapi pulang ke mana? Pulau tempatku mengangkat jangkar sudah tidak teradar oleh mata, arah mata angin yang sulit kubaca, meski sebelumnya aku pandai membacanya. Menerka-nerka sama saja akan membawaku lebih jauh. Aku seperti tidak punya garis mulai.

Setiap hari aku belajar, meningkatkan kemampuanku agar menjadi Nahkoda yang handal. Tapi bagaimana bisa? Terombang-ambing seperti ini justru menguras habis logikaku. Jangan tanyakan dimana peta yang kupunya. Benda itu hilang setelah terjangan badai 24 purnama yang lalu. Aku terombang-ambing dalam ketidakpastian dan hampir putus asa. Aku harus menyusun ulang rencana, mengingat jalur yang abu-abu--yang tak mungkin kuingat-- sembari menari sendirian dalam kesunyian malam, sedang yang lain menatapku beragam. Kadang aku peduli dengan tatapan itu, kadang juga tidak. Terkadang aku bertengkar dengan mereka, lalu yang lain menganggapku gila.

Benar. Aku sudah gila. Lihatlah aku memarahi angin kencang yang membawaku sejauh ini yang awalnya menganggap mereka semua orang baik, padahal mereka selalu menyakitiku. Lihatlah Ombak. Ombak sudah menjadi temanku, padahal, bisa saja dia menenggelamkan. Bintang, bulan, dan matahari sudah seperti saudaraku. Memangnya, apa yang mereka bertiga lakukan saat hujan membuatku menggigil?

Sayangnya, aku tak bisa mengharapkan lebih dari mereka. Satu hal yang kuketahui adalah, aku harus segera bersandar karena kapal ini mungkin atau memang sudah karam. Jikalaupun aku hanyut, setidaknya ombak sudah berteman denganku dan benda yang tergantung di atas sana akan tetap ada setelah kepergianku.

Komentar