Review Buku: Proviso by Suzie Rain

Jarang sekali aku setelah baca novel senyum-senyum sendiri. Biasanya, sih, uring-uringan. Aku rasa kayak, duh, novel ini sempurna. Kamu diajak masuk ke dunia perkopian dan cinta yang rumit bikin mumet, tapi manis bangettt!

Oke-oke, berikut ulasannya. 

            Proviso by Suzie Rain on iPusnas 


Judul buku : Proviso
Penulis : Suzie Rain
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, tahun 2020
Tebal : 256 halaman
ISBN : 9786020643274

Blurb Proviso:

Untuk mewujudkan impian kita harus mendengarkan kata hati, gigih, dan pantang menyerah. Kira-kira itulah yang dilakukan Ajeng agar mendapatkan restu dari sang Ayah agar bisa mewujudkan mimpinya membuka coffee shop. 

Cita-citanya ingin membuka coffee shop tidak lain dan tidak bukan karena sang Ayah yang merupakan pecinta dan kiprahnya di dunia perkopian sudah tidak bisa diragukan lagi. Ajeng yang notabene adalah anak tunggal, merasa ingin membuktikan kepada sang ayah bahwa dirinya memiliki keahlian yang sama. 

Namun, sang ayah menolak lantaran anak gadisnya itu masih dalam proses pendidikan. Meski demikian, ini tidak menjadi penghalang buat Ajeng untuk menekuni dunia perkopian, And this is where the story begins.

Ajeng diam-diam mempelajari tentang dunia perkopian hingga ke detailnya. Dia melatih diri disela-sela masa pendidikannya dan ketekunannya ini membawanya memenangkan sebuah kompetisi meracik kopi ala barista, dan mendapatkan pekerjaan paruh waktu pertamanya di sebuah kafe, dan disanalah awal percikan asmara mulai menggesek. 

Kelebihan Novel Proviso: 

Aku suka bagaimana penulis dalam menjahit tiap kalimat sehingga penuturannya terasa pas, mengalir tanpa hambatan. Penulis berhasil membuatku seakan berada di wahana roller coaster; tiba-tiba senyum-senyum, tiba-tiba pengin nangis, pokoknya campur aduk.

Terlebih para tokoh yang memiliki ciri khasnya masing-masing. Penulis juga berhasil membuatku merasakan jalan-jalan ke Pattaya, Bali, dan Kawah Ijen, beserta drama disetiap lokasinya. 

Selain itu, keunikan dari novel ini ialah disetiap bab tertulis jenis-jenis kopi lengkap dengan karakteristik dan rasa yang dimilikinya. Jujur, bawaannya jadi pengin menghirup dan minum kopi. Sayang sekali aku tidak bisa minum kopi.

Kekurangan Novel Proviso:

Bukan kekurangan, sih, harusnya. Hanya beberapa hal yang tidak aku suka yang membuatku kurang sreg dengan beberapa bagian terakhir di novel ini. 

Ada sebuah pertengkaran antara Adit dan Gerry yang menurutku terlalu bertele-tele. Belum lagi hubungan Ajeng dan Gerry. Gerry seakan tidak bisa tegas kehubungannya dengan Ajeng, tapi kalau Ajeng didekati cowok lain, dia ngamuk. Terus karena itu, tiba-tiba Ajeng kecelakaan. Kayak, kenapa? Kenapa harus begini? Ajeng menunggu Gerry, tapi Gerry terserah Ajeng. 

Kesimpulan

Overall, novel ini tetap bagus untukku. Meskipun Gerry tidak tegas, dia tetap jadi tokoh yang aku gemari.

Buat kalian yang mau coba membaca genre young adult, Proviso ini aku rekomendasi buat kalian dan bisa dibaca gratis di iPusnas!

Sekian dari review-ku kali ini, sampai jumpa!

Komentar