Seperti kata orang-orang diluar sana, hanya perlu satu bacaan agar bisa mencintai buku.

(Finalis Prosa Kusala Sastra Khatulistiwa 2017)

Berawal dari buku yang dibacanya saat SMA, berjudul Zero to Hero karya Solikhin Abu Izzuddin yang terbit tahun 2006 ini, membuat pria kelahiran tahun 1994 di Bandung, mulai menyukai membaca buku.
Pembahasan buku Zero to Hero ini tentang menemukan cara bagaimana memandang hidup agar lebih bermakna dan berarti, membuat PJ Arnhemia yang bernama lengkap Moch Akbar Maulana, membaca lebih banyak buku-buku motivasi dalam bidang agama dan pengembangan diri sebagai seorang muslim, terutama buku-buku terbitan Pro-U Media yang dikenal sebagai penerbit buku islami.
Kemudian kecintaan Kak Akbar dalam membaca dan dunia sastra semakin besar kala dirinya membaca buku Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan sewaktu kuliah dulu, yang menurutnya frontal. Pengalamannya dalam membaca buku tersebut membuatnya semakin intens membaca buku sastra, termasuk buku-buku yang memenangi Kusala Sastra Khatulistiwa.
Kusala Sastra Khatulistiwa merupakan sebuah ajang penghargaan bagi dunia kesusastraan Indonesia yang didirikan oleh Richard Oh dan Takeshi Ichiki dan mulai dilaksanakan sejak tahun 2001.
Acara ini, sebelumnya bernama Khatulistiwa Literary Award, tetapi berganti nama sejak tahun 2014. Pemenang KSK didasarkan pada buku-buku puisi dan prosa terbit dalam kurun waktu 12 bulan terakhir, yang kemudian diseleksi secara ketat oleh para dewan juri independen. Sepeninggal Richard Oh pada Juli 2022, perhelatan ini praktis berhenti, dan belum ada kabar akan dilanjutkan. (Source Wikipedia)
Keren, ya? Aku sendiri baru tahu kalau ada perhelatan seperti ini saat mewawancarai Kak Akbar. Nah, dari sini pula kecintaan Kak Akbar untuk membaca cerpen semakin intens, karena kebetulan saat itu Kak Akbar sedang menyusun skripsi tentang pembelajaran menulis cerpen.
"Pada dasarnya menulis cerpen itu adalah sebuah proses, bukan sekali jadi, jadi dalam skripsi saya, meneliti bagaimana praktik menulis cerpen sebagai sebuah proses yang terdiri dari menemukan ide, menciptakan premis, mengembangkan sinopsis, menciptakan karakter, mengembangkan sinopsis jadi alur/plot, menulis, revisi tulisan, hingga menjadi tulisan yang dirasa sudah cukup matang," papar kakak Akbar dalam wawancara kami di WhatsApp
• Rekam Jejak Tulisan
Kak Akbar mulai menulis sewaktu masih duduk di bangku SMA. Tulisan pertama Kak Akbar dibagikannya di laman Facebook yang berisikan kutipan-kutipan motivasi, dan semangat keislaman. Seiring waktu, bacaan Kak Akbar mulai merambat ke genre lain, seperti personal literature, membuat tulisannya pun mengikuti bacaannya.
Lagi-lagi, Aku baru tahu ada genre personal literature dari Kak Akbar. Sekadar info, genre ini dipopulerkan oleh Raditya Dika saat novel pertamanya terbit pada tahun 2005 silam. Personal literature maksudnya ialah menulis ulang kisah pribadi yang pernah dialami yang mengandung unsur komedi.
Selain di Facebook, Kak Akbar juga mulai menulis di Blog dan di Medium. Tulisannya pun beragam, yang berawal dari quotes menjadi cerbung, cerpen, bahkan novel.
• Kak Akbar dan Komunitas ODOP
Kecintaan Kak Akbar dalam menulis di blog pun terwadahi dengan adanya Komunitas ODOP.
Kak Akbar adalah anggota ODOP batch 4. Beliau mengetahui ODOP dari teman kuliah yang merupakan anggota ODOP juga. Ssstttt ... aku bisikkin sebuah Fun Fact! Teman Kak Akbar ini dapat istri anggota ODOP juga lho. Kabarnya mereka menulis barang waktu itu.
Intermozo aja nih, ya, gaiss. Lanjut!
Kehadiran ODOP membuat Kak Akbar merasa terwadahi dengan ilmu-ilmu yang diberikan, seperti, hosting, beli domain, dapet adsense dari blog, dan masih banyak lagi. Sedangkan materi kesukaan Kak Akbar adalah menulis non fiksi dan menulis feature.
• Fakta Unik
Setiap orang yang suka menulis pasti sangat mencintai buku. Faktanya, si kutu buku satu ini mempunyai Podcast di Spotify yang berjudul Retorika Saja. Podcast ini membahas apa aja, isu terkini, isu kontroversial, dan curhatan hati Kak Akbar. Jika kamu penasaran, silakan berkunjung!
Kesukaan Kak Akbar pada podcast dari podcast awal Minggu, alih-alih sebagai ajang latihan publik speaking juga. Karena menurutnya podcast lebih mudah daripada video, yang perlu alat dan penampilan prima.
Demikianlah tentang Si Kutu Buku seorang PJ Arnhemia, Moch Akbar Maulana.
Komentar
Posting Komentar