Kamu Itu Penakut!

Hari-harimu begitu menyenangkan. Senyumnya bahkan terlukis di langit-langit kamar. Dunia kali ini dipihakmu. Dia membersamaimu tiap ada waktu.

Sempurna. Kalian serasi, seperti itulah komentar di sekitar kalian.

Jalinan kasih itu berjalan dengan mulus, hanya saja dia tidak pernah mengungkapkan apa yang ingin kamu dengar meski gelagatnya sudah mewakili apa yang kamu inginkan. Meski demikian, hatimu tidak rela. Kamu ingin sesuatu yang lebih; menyatakan perasaan.

Atau aku mulai duluan?

Pertanyaan itu terus memenuhi pikiranmu. Saking penuhnya hingga membuatmu frustasi. Hari demi hari waktu terus berjalan, kisah ini masih berlanjut, masih sama seperti sediakala. Diam-diam kamu mengamatinya, sore itu, di taman.

Apa aku harus mengungkapkannya?

Ini sangat menyiksa batinmu.

Semilir angin datang menguatkanmu. Kamu bertekad bahwa si pemilik senyum manis di dunia ini harus jadi milikmu detik itu juga, tapi kamu dan dia sama-sama penakut. Satu hal yang tidak kamu ketahui adalah bahwa dia juga ingin memiliki kenyamanan ini seutuhnya; kamu.

Tapi kalian berdua terlalu penakut!

Jika kamu merasa harus memilikinya, kenapa tidak berani mengungkapkan? Hal mengganjal apa yang menggerogoti hatimu?

Kamu memang penakut bahkan sampai kalian berpisah, pulang ke rumah masing-masing tak ada satupun tanda yang kamu berikan bahwa kamu menginginkan lebih. Kalian sama-sama saling ingin memiliki tapi takut. Apa yang kalian takutkan?

Asal kalian tahu saja, perlahan kenyamanan ini tiada berarti karena rasa takut yang kalian miliki. Kamu mulai seadanya dan dia pun sama. Kalian tidak akan pernah bersama karena rasa takut yang kalian miliki.

Ungkapkan sekarang atau tidak untuk selamanya, tergantung dari kalian yang sama-sama ingin saling memiliki tapi tidak berani untuk mengungkapkan. Sepertinya memang hanya begini saja untuk hubungan ini. Kalian berdua nampak pasrah. Hingga berita itu sampai pada telingamu, berita yang cukup mengejutkan.

Kalian cukup dekat, sangat dekat. Orang-orang yang pernah melihat kalian secara tidak langsung menjadi saksi betapa serasinya kalian. Orang-orang sudah mengira kalian sepasang kekasih tanpa mereka tahu fakta bahwa tidak ada hubungan yang lebih selain teman jalan dan asyik ajak ngobrol.

Kamu terkejut, mereka juga terkejut. Rasanya aneh sekali buatmu yang sudah terbiasa mengirim pesan dengannya tiap hari tapi malah mendengar berita tentangnya dari orang lain. 

“Kamu benaran tidak tahu kalau dia sudah pindah?”

Kamu menganguk, wajahmu tertunduk.

“Bukannya kalian ...”

“Bukan. Tidak,” jawabmu cepat sebelum pertanyaan yang diajukan selesai.

Apa salahnya berpamitan sebelum pergi? Setidaknya bilah dadah aja, kayaknya udah cukup. 

Kamu terkejut, mereka juga terkejut. Selama ini yang mengira dirimu spesial hanyalah karangan fiksi kepalamu semata. Itu tidak nyata, tapi terasa nyata. Kamu merasa telah dibohongi dan dibodohi. Tidak akan aku deskripsikan hatimu yang hancur itu. Biarlah kamu merasa bersalah karena tidak menjadi penakut, tapi entah kenapa, disudut hatimu, kamu bersyukur karena tidak mengungkapkan apa yang terasa.

Kamu hancur, malu, kesal, dan ... alamak, betapa melelahkan merasakan cinta. Hati dan logikamu tidak sejalan.

Namun, kamu tidak mengetahui sisi sebenarnya dari dirinya. Fakta bahwa dia tidak ingin memberitahukanmu tentang kepergiannya adalah karena akhir-akhir ini kamu agak berbeda dari biasanya. Kamu membuatnya merasa seolah-olah diinginkan tapi tidak diinginkan.

Satu yang pasti. Kalian berdua sama-sama penakut.

                                  Tamat

Komentar