Kamu Itu Penakut!

Apakah kamu pernah menyukai seseorang dan tanpa kamu sadari, orang itu memiliki perasaan yang sama denganmu?

Pernahkah kamu berpikir untuk memulai mengungkapkan apa yang terasa, barangkali ada kesempatan untuk memulai kisah asmara ini?

Tiba-tiba temanmu datang, mengatakan hal yang membuatmu berbunga-bunga, sampai-sampai kupu-kupu memenuhi perut dan dadamu. Rasanya ingin terbang! Dari sini kamu tahu bahwa perasaan yang kamu miliki tidak sia-sia. Tapi ....

Akan tetapi, kenyataan tidak seindah itu. Suatu hari dia menampakkan diri, membuatmu merasa indah seakan-akan kamu pelabuhan terakhirnya. Belum ada status yang jelas diantara kalian. Kalian masih sama-sama memendam rasa, hanya saja yang terasa olehmu sudah seperti sebuah lagu romants. Sebuah melodi yang kamu hidup di dalamnya. Surga. Sampai akhirnya di suatu waktu kamu merasa ini tidak benar. Ini sangat menyiksamu. Kamu merindukannya setiap pagi, rasanya berat sekali untuk memulai hari. Untungnya, pekerjaan cukup membuatmu sedikit lupa. 

Tapi itu hanya sementara.

Ketika kamu lengah sedikit saja, atau ketika kamu melihatnya melakukan sesuatu yang sebenarnya itu wajar, tapi karena hatimu sudah lelah akhirnya kamu termakan api cemburu. Rasanya salah. Rasanya seperti dia mempermainkanmu. Tarik-ulur.

Hanya saja, sayangku, dia tidak sedang mempermainkanmu. Ingat, kalian belum punya hubungan apapun. Janganlah kamu merasa begitu. Tapi apalah daya, tahi kucing sudah terlanjur rasa cokelat. Kamu sudah dibutakan oleh cinta. 

Nanti juga dia chat atau sekadar lihat story kamu, kamu akan berbunga lagi. Itulah faktanya. Namanya ada view story sudah cukup menghidupkan bunga layu dihatimu. Beda cerita kalau story WhatsApp atau Instagram belum dia lihat. Kamu gelisah bukan main. 

Kemana perginya sang pujaan hati? Kenapa belum lihat apa yang ingin aku sampaikan melalui story ini?

Mendadak kamu galau, rasanya semua lagu sedih di dunia ini hanya diperuntukkan untukmu. Tapi lagi-lagi, ketika dia hadir sebagai penonton storymu, membalas storymu, atau kamu menerima sebuah pesan darinya, hatimu sudah tidak layu lagi. Harapan-harapan kembali dilangitkan. Lagu-lagu galau tadi seperti tidak pernah terlantunkan. 

Se-simple itu, kamu sudah senang. Rasanya ingin segera dilamar. 

Semua neraka-surgawi itu kamu rasakan, bermain layaknya rollercoaster. Love-hatemu dengannya terasa menyebalkan dan menyenangkan. Sekarang kamu mulai bertanya-tanya, "Kapan ini akan berubah menjadi sesuatu yang serius?"

Temanmu bilang, dia suka kamu. Kamu mulai mempertanyakan kebenaran itu. Kamu dilema, tapi sisi hatimu seakan meyakinkan bahwa kamu berada di jalan yang benar dan sesaat lagi semuanya akan indah. Oh, pemikiran hati ini berdasarkan pada apa yang sudah terjadi selama ini. Kamu, kan, cukup intens dengannya dalam obrolan yang menyenangkan. Kamu tentu saja setuju dengan pemikiran hati. 

Namun, logika memaksamu bangun. Dia tidak pernah mengungkapkan apa yang terasa jika benar dia menyukaimu. Dia saja tidak pernah ajak kamu nonton bioskop atau sekadar jalan sore. Tapi pemikiran hati lagi-lagi mematahkan argumen itu dengan kalian, kan, sama-sama sibuk. 

Kamu mengangguk. Benar. Kalian sama-sama sibuk.

Logika ini tentu saja tidak tinggal diam. Dia tetap memaksamu agar segera bangun dari kenyataan dan berlari. Jika cinta, harusnya tidak ada alasan sibuk. Kamu mulai dilema. Ini membuatmu pusing. 

Pemikiran hati hadir kembali menenangkan kamu. Semua akan baik-baik saja, dan itu didukung oleh sebuah pesan yang masuk darinya. Pemikiran hati menang kali ini. 

Aduhai. Betapa melelahkan merasakan cinta. Hati dan logikamu tidak sejalan. Kamu kelelahan. Tiada titik terang. Perasaanmu kian hari terasa seperti memainkan saklar. Ingat, memainkan saklar itu tidak baik, ini akan mengganggu kerja listrik ke lampu. Sama seperti hatimu. Kamu mulai bosan dan mempertanyakan ini semua. Tiap-tiap hari hati dan logikamu berdebat hanya karena dia yang kamu anggap pelabuhan terakhir. Tekanan dari dalam cukup berat, belum lagi tekanan eksternal. 

Akhirnya, kamu mengambil sebuah keputusan. Kalau dia bisa tarik ulur, maka aku juga bisa. 

Setiap kali berpapasan dengannya, kamu mengabaikan. Pesan darinya, kamu hanya baca saja tidak membalas, meski hati sudah berteriak segera balas. Tapi kamu tahan. Logika kali ini menguasaimu.

"Kamu marah, ya? Aku ada salah?" 

Begitu isi pesan yang kamu terima darinya. Kamu senang, tentu saja. Pipimu sudah naik  hingga menampakkan barisan gigi atas. Ada kehangatan yang terasa. Pesan itu berlanjut sampai pesan berikutnya mengagetkamu.

"Ayo, kita jalan!"

Oh, Tuhan. Taman hatimu mulai subur dan rimbun kembali. Akhirnya, setelah sekian purnama ini menjadi kenyataan.


Lanjut part 2

Komentar