Kata-kata itu terbayang-bayang. Jumlah cewek yang dia ikuti di Instagram hanya beberapa saja. Teman-teman cewek yang dia sering sapa--sepenglihatanku-- hanya beberapa juga. Teman-teman sekelasnya malah pernah berkomentar kalau si Putra itu aslinya dingin, dia hanya dekat sama orang yang bikin dia nyaman.
Apa benar si Putra naksir aku?
Ahh, aku tidak bisa tidur!
3 bulan sudah aku dekat dengan si Putra sampai aku mulai bosan sendiri liat dia mengekor. Bukan tidak senang, hanya saja aku kehebohan yang terjadi sering membuatku tidak nyaman.
"Put, kenapa sih, ikut aku mulu?" tanyaku, setelah selesai piket kelas.
"Enggak senang, ya?"
Kami mulai berjalan menuju parkiran. "Kasih aku ruang, dong. Aku pengin sendiri," jawabku, cemberut.
"Kenapa?" Dia berhenti, berdiri tepat di depanku.
"Lah, kok, nanya, sih?" Aku tetap berjalan, mencoba menjauhinya.
"Aku enggak pengin jauh-jauh dari kamu," ungkapnya, sambil menyamai langkah denganku.
Aku ingat waktu itu, saat pertama kali pulang dengannya. Hari itu aku tanya kenapa bisa kenal aku, dan dia menjawab, "Aku udah lama perhatiin kamu. Aku pengin dekat."
Itu pertama kalinya aku merasakan ada yang berbeda di dadaku, detakan yang tidak seirama hingga membuat perutku bergejolak dan sesak napas. Kali ini aku merasakannya lagi. Entah kenapa rasa itu terkesan mewah. Mungkin karena aku jarang merasakannya. Memang, setiap kali jalan dengan si Putra selalu ada kesan berbeda yang tertinggal, tapi tidak selalu semewah ini. Baru terjadi 2 kali saja.
"Hey, girl. You know what? I think i'm in love with you."
Ini yang ketiga kalinya. Rasanya sangat luar biasa mewah. Aku selalu tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan kupu-kupu berterbangan di perutmu, dan jantung yang melompat-lompat sampai-sampai dadamu mau bocor. Benar, kamu tidak akan mengerti sampai kamu benar-benar merasakannya.
"Put?" aku menolah ke kanan dan ke kiri, barangkali ada orang lain yang diajak bicara si Putra, meski aku tahu kalau di sekeliling kami saat ini kosong melompong. "Enggak salah, kan?"
Sampai di sini, aku sudah tidak berani melihat matanya. Wajahku sudah terasa aneh sejak tadi. Sejak rasa mewah itu hadir. Mungkin aku demam, tapi tidak mungkin setiba-tiba ini, kan?
"Enggak," jawab si Putra dengan nada suara yang tidak pernah aku dengar sebelumnya. Hal ini membuatku makin tidak bisa bernapas. Kucoba untuk mendorongnya, tapi tidak bisa. Gerakan tangannya begitu cepat hingga aku bersandar di tembok. Si Putra mendekapku.
Mata kami saling menatap. Baru kali ini aku melihat si Putra sebegitu dekatnya. Kutundukkan pandangan sambil mencoba menghirup oksigen baru.
"Put, apaan sih?" Aku juga merasakan kalau suaraku berbeda.
"Girl, would you be mine?"
"Put, aku enggak tahu." Dari antara semua kosakata, hingga membentuk untaian kata dan kalimat, entah mengapa harus itu yang keluar. Mana suaraku seperti orang mau menangis lagi.
"Tapi bahasa tubuhmu mengatakan sebaliknya."
Oh, Tuhan. Apakah si Putra mendengar berisiknya dadaku?
"Bagaimana jika, apa yang dikatakan bahasa tubuhku sama dengan apa yang akan dikatakan mulutku?"
Dia tersenyum seakan menangkap apa yang aku maksud. Jadilah hari itu, hari dimana Putra si Underrated jadi pacar pertamaku. Namun, itu tidak berlangsung lama karena ternyata aku hanya dijadikan taruhannya.
Sungguh gila!
Aku tahu ini saat menuju ke perpustakaan. Ada sebuah lorong kecil di sana. Daerah itu memang kosong. Saat kulewat, terdengar suara pukulan yang sangat kencang. Kakiku berhenti saat mendengar makian si Putra.
"Lo bilang, kalau gue bisa dapatin dia, gue akan beruntung karena semua yang gue minta akan lo kasih. I got her, and I didn't get anything!"
Aku terpaku. Ini tidak benar. Aku memberanikan diri muncul di sana dan tampaklah apa yang terjadi. Putra si Underrated sedang meremas leher baju, err, entah siapa. Fokusku kini hanya tertuju pada Putra.
"Put. Aku tidak salah dengar, kan?"
"Enggak," jawabnya mantap.
"Aku. A-aku." Aku menggeleng tidak paham. Napasku sudah tercekat. " J-jadi, ak-aku hanya ... taruhan?"
"Iya," jawabnya tanpa beban, tanpa dosa.
"Gila, ya?!" Aku menggeleng, lalu beranjak meninggalkannya.
Huft ....
Pertama, aku bukan jimat. Kedua, jangan menggantungkan keberuntungan padaku. Ketiga, aku bukan target!
Komentar
Posting Komentar