Jika Kamu Bisa Memilikinya Kamu Akan Beruntung!

                          Design by Canva



Aku yakin, teman-temanku tidak mendengar apa yang si Putra bisikan, tapi kehebohan mereka itu, lho. Ampun, aku jadi malu. 

"Kalian kenapa, sih?" tanyaku, kesal.

"Aku punya feeling kuat, kalau nggak lama lagi, kamu akan mengakhiri masa jomblomu."

Jangan membuatku bersumpah, karena sungguh, aku tidak kepikiran sampai ke sana. Aku baru tahu si Putra kemarin dan bertemu dengan sosoknya beberapa menit yang lalu. Tapi ... Jika dipikir-pikir, wajar jika mereka berpikir seperti itu. Kami berlima, berteman sejak awal masuk SMA. Mereka punya pacar dan punya mantan. Sedangkan aku tidak. Crush? Kalau yang ini ada, tapi cowok fiksi. 

Pulang sekolah, betapa mengejutkan melihat si Putra di depan kelasku. Sebelumnya, aku tidak pernah memberitahu aku kelas berapa. Apa dia mencari tahu? Bisa saja, kan? 

Tapi, oh, tidak! Orang ini sepertinya akan mengganggu kedamaianku, terbukti dengan rasa hatiku yang takkaruan melihat posisinya berdiri; tangannya yang dimasukan ke dalam saku celana, berdiri tidak terlalu tegap, kacamata terpasang di atas kepala seperti bando, dan gerak-gerik kecil yang membuatnya terlihat cool abis! 

Ada lagi yang mengganggu kedamaianku, yakini, teman-temanku. Mereka dan warga kelas, especially, para cewek, mereka heboh; menggeliat seperti cacing kepanasan. Aku tidak bisa membayangkan jika ada cowok populer yang datang kemari, mungkin para cewek ini akan membelah diri seperti amoeba. Mungkin saja, toh, Putra si Underrated ke sini saja, mereka sudah begitu, bagaimana yang lain?

"Put," panggilku.

Dia tersenyum menampilkan giginya yang putih. "Hai. Pulang sekarang, yuk."

"Gimana kalau kamu duluan aja? Soalnya, ini jadwal piketku. Kasian kan, ka--"

"Oh, gitu? Gapapa, deh, aku tunggu."

Eh? 

Aku memang jomlo sejak lama, tapi bukan berarti aku tidak menangkap sinyal ini. Jadi, sepertinya memang benar, dia akan mengganggu kedamaianku dalam beberapa waktu ini. Lihat saja semua kejadian hari ini. Rasanya seperti ada ibu peri yang bertindak. 

Mulai dari follow dan DM di Instagram kemarin, makan di kantin saat jam istirahat tadi, tawaran pulang bareng, dan sekarang rela menunggu aku selesai piket kelas. Tentu saja aku curiga. Aku belum benar-benar kenal Putra si Underrated

Selesai piket, aku dan Putra menuju parkiran. Sekolah yang sudah hampir kosong karena masih nampak beberapa siswa-siswi yang baru mau pulang juga. Awalnya aku menduga kalau pulang bareng Putra pasti naik motor, karena rata-rata cowok pakai motor. Nyatanya kami naik mobil. Aku terpaku di samping mobil si Putra begitu dia membukakan pintu untukku. 

Seperti bisa membaca pikiranku, tiba-tiba dia nyeletuk, "Motorku lagi di bengkel. Kemarin di tabrak sapi liar saat parkir di depan warung." 

Wow. Banyak pertanyaan yang timbul sekarang, tapi aku lebih memilih ber-oh-ria saja dan masuk ke dalam mobil. Gerah, cuy!

Selama perjalanan, aku dan Putra banyak ngobrol, bertukaran pikiran, bercanda, dan akhirnya sebelum turun, kami saling bertukar nomor, And this story starts from here!

Komentar