Awalnya mereka bilang, "Jika kamu bisa memilikinya, kamu akan beruntung."
Pertama, aku bukan jimat. Kedua, jangan menggantungkan keberuntungan padaku. Ketiga, aku bukan target! Pada bagian Jika bisa kamu memilikinya .... Sshhh. Tutup mulutmu, sayang, aku bukan target!
Tapi lihatlah kenyataan yang ada. Aku terpancing. Oh, Tuhan, kenapa logika ini muncul setelah aku tersakiti? Jadi begini ceritanya, ukhm!
Ada seorang cowok yang ganteng banget, namanya, Putra. Dia bukan tipikal oppa-oppa korea, yang putih gitu. Bukan. Kulitnya agak sawo, rambutnya rapi, senyumnya manis, ada otot yang baru timbul di lengannya--mungkin karena keseringan main basket kali, ya?--- dan pokoknya di mataku, Putra ini cakep pol! Hanya sayang, dia tidak tersorot. Awalnya juga si Putra ini tidak tersorot oleh mataku sampai akhirnya dia mendekat dan baru kusadari ini cowok ganteng banget, mana wangi lagi!
Suatu hari, ada direct message masuk di Instagram. Akunnya terkunci, tidak ada foto profil, followersnya tidak sampai seribu, tapi beberapa temanku mengikutinya. Jadi kutanya deh, ke teman-temanku, "Kalian kenal orang ini?"
Respon teman-temanku diluar dugaan. Mereka histeris!
"Putra si Underrated, follow kamu? Hah, seriusan?!"
Nah, dari sini aku tahu kalau si Putra ini tidak tersorot ke banyak kamera, katanya sih, masih banyak yang lebih populer dibandingkan dia, jadi dia tidak terlalu disorot. Ibarat kata, hidden gem-lah.
"Aduh, si Putra itu, ya. Hanya follow orang-orang yang dia naksir. Atau jangan-jangan dia naksir kamu, lagi!" Komentar satu ini agak membuatku keheranan.
Pertama aku bukan cewek populer apalagi cantik. Err, maaf cantik itu relatif, ya. Ah, menarik! Aku bukan cewek yang menarik, tidak pintar dandan. Pokoknya kalau ke sekolah seadanya aja; bawa diri dan alat tempur pendidikan. Untuk kepikiran ada yang naksir. Oh, Tuhan. Aku lebih suka tokoh fiksi. Kalau si Putra ini tokoh fiksi, aku mau!
Akhirnya, aku follow back si Putra dan membalas dm-nya yang biasa aja. Cuma say hi. Balasan dari si Putra kuterima keesokan harinya saat aku dan teman-temanku lagi makan di kantin. Isinya permintaan maaf karena baru balas. Pesan berikutnya bikin aku tercengang.
"Aku lihat kamu di kantin. Aku boleh gabung?"
Pesan darinya ini bikin mataku menyisir seluruh area kantin, tentu saja ini mengundang kecurigaan teman-temanku. Saat aku kasih tahu tentang si Putra yang ingin bergabung, mereka kembali histeris. Atensi warga kantin teralihkan ke kami. Tidak lama semua kembali normal, meski meja kami yang masih heboh. Teman-temanku mulai mengatur posisi duduk agar si Putra bisa gabung. Pesan darinya belum kubalas, meja kami juga masih heboh. Tiba-tiba sosok itu hadir membuat teman-temanku terdiam sempurna.
"Jadi boleh, kan, aku gabung?" tanyanya.
"Boleh, boleh, boleh. Duduk, Put. Duduk," jawab teman-temanku.
"Sorry. Enggak balas chatmu," ucapku.
"Gapapa. Kamu pasti agak terkejut."
Perbincangan pun berlangsung, tapi bukan aku sama si Putra, melainkan teman-temanku dengannya. Aku lebih banyak mendengar apa yang mereka bahas. Random, sih. Mulai dari olahraga, pelajaran ini-itu udah sampai mana, nge-rating guru, sampai hampir bahas teori konspirasi kalau bel tanda istirahat usai belum melengking. Karena sudah melengking, warga kantin mulai bubar termaksud kami.
Sebelum akhirnya benar-benar kembali ke kelas masing-masing, si Putra mendekat dan membisikkan, "Pulang ini bareng aku, yuk."
Lanjut part 2.
Komentar
Posting Komentar