Malam itu, aku sedang memilah lagu apa yang harus kubahas untuk Hujan dan Lagu Galau bagian ke dua. Namun, aktivitas itu terhenti ketika sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak aku kenal.
Kuklik pesan tersebut membuat layar yang tadinya berupa tampilan YouTube Music, berubah menjadi tampilan chat WhatsApp. Tanganku gemetar begitu membaca pesan masuk dari salah satu PJ SJLD (Satu Jam Lebih Dekat) Oprec Komunitas ODOP.
Pesan yang masuk itu cukup membuat napasku tertahan beberapa detik, sebelum akhirnya mengembuskan napas perlahan untuk menetralkan rasa gugup. Namun, alih-alih membalas pesan dari beliau, aku memilih untuk terus mencari lagu dan menulis Hujan dan Lagu Galau. Ya, ini juga bagian dari menetralkan rasa gugup.
Menjadi calon bintang? Ini artinya aku akan tersorot, kan? Orang-orang akan membaca profilku dan bertanya mengenai apa saja sesuai dengan apa yang aku tuliskan. Bagaimana kalau aku tidak bisa menjawab?
Oh, tidak! Aku gugup.
Jujur, sepanjang menulis, aku terus kepikiran. Berkali-kali kucoba mengatur pernapasan sampai rasa gugup itu hilang. Sayangnya, aku memutuskan untuk kembali lagi ke WhatsApp, dan membalas pesan dari beliau; menyapa balik.
Hanya itu. Aku belum berani mengisi format profil yang diminta. Aku kembali menulis Hujan dan Lagu Galau dengan perasaan yang tidak tentu. Banyak hal yang kupikirkan selama menulis, salah satunya karena baru pernah ada yang meminta profilku untuk dibagikan, dan nantinya akan dibaca oleh banyak orang. Apalagi perihal nama lengkap. Sejak awal masuk dunia tulis-menulis, aku selalu memperkenalkan diri dengan nama pena, tidak ada seorang pun yang tahu nama lengkapku.
Dua menit berlalu, pesan itu datang lagi berisi pengingat, jangan lupa mengisi profil yang diminta. Tapi aku memutuskan untuk menggantung balasan. Apa, ya, yang harus kutulis? Formatnya tentu sudah ada. Tinggal diisi.
Lagi-lagi aku gugup.
Sekitar 18-20 menit kugantung pesan dari beliau, sebelum akhirnya memutuskan untuk membalas pesannya; mengisi format yang dimaksud.
Sudah?
Belum. Aku masih memikirkan foto apa yang harus kumasukkan, pasalnya, aku tidak pede. Selain itu, isi galeriku kebanyakan berisi tangkapan layar, sisanya foto tentang pekerjaan. Jadi, kucoba untuk menanyakan satu hal "aman."
Baiklah. Sudah. Kini, kulanjutkan menulis Hujan dan Lagu Galau
• The Day!
Hari Rabu, sekitar jam 10 pagi, dimana saat itu aku lagi riweh dengan pekerjaan kantor yang bikin mumet. Pesan dari Kakak PJ masuk lagi, mengingatkan tentang agenda nanti malam.
Uh, jantungku langsung berpacu, tanganku kembali gemetar. Aku juga sedikit berteriak dan uring-uringan. Melihat tingkahku ini, rekan kerjaku jadi bertanya, "Apa yang terjadi?" Aku hanya menggeleng sebagai jawaban, dan kembali uring-uringan.
Rasa gugup kembali menyelimutiku dihitung sejak pesan itu masuk sampai H-1 jam SJLD. Gugup tapi juga excited. Senang tapi juga overthingking. Bagaimana kalau mereka bertanya, lantas aku tidak bisa menjawab? Oh, memalukan sekali!
Di grup utama mulai ramai. Ramainya pesan itu membuatku semakin gugup, Beruntung, di kamarku tidak ada jam, setidaknya bunyi jarum jam tidak ikut meramaikan rasa gugupku. Jadi, kualihkan rasa gugup itu dengan menggulir postingan Instagram.
Aku kembali membuka grup utama, ternyata profilku yang dibagikan lebih dulu dengan memunculkan foto yang kukirim ke Kakak PJ waktu itu. Rasanya aku mau meleleh, ada rasa bangga juga yang terasa. Menyusul 2 profil lainnya dari rekan sejawat yang dibagikan.
Sesi tanya jawab pun dibuka. Alhamdulillah. Pertanyaan yang diajukan bisa kujawab meski kurasa tidak begitu memuaskan, terutama pertanyaan tentang motivasi menulis setelah hiatus panjang. Ini kurang bisa aku jawab dengan baik, seperti tidak ada insight yang bisa kubagikan. Sisanya bertanya tentang buku-buku yang kubaca.
Satu jam tidak terasa. Tiba-tiba saja sudah penutup.
• Kesimpulan
Ini merupakan hal yang baru bagiku. Pengalaman sekaligus pembelajaran. Rasa gugup, takut, overthingking, dan hal-hal serupa, akan terus menyertai kita disetiap langkah pertama; langkah baru. Yang harus dilakukan adalah berani mengubah rasa-rasa itu menjadi sebuah tantangan positif yang harus ditaklukkan.
Sekian.
Note: screenshot percakapan yang terlampir sudah mendapatkan izin dari Kak Dita.
Komentar
Posting Komentar