Aku pikir akan lebih baik jika pertanyaannya diganti, “Ayo gabung bareng kami!”
Aku memilih diam ketika ditanya karena tidak tahu caranya menjawab. Aku bahkan tidak tahu caranya menolak. Mengangguk dan menggeleng saja rasanya sulit. Ada satu anak laki-laki bertanya lagi, “Sebenarnya apa maumu?”
Tidak ada. Um, jujur saja, aku tidak tahu apa mauku. Aku ingin jiwaku merasakan kebahagiaan berada di tengah-tengah mereka, tapi jiwaku ingin tetap ada di sini.
“Kau membuat kami takut.”
Aku tidak pernah punya niat untuk menakuti, dan pemikiran orang-orang ini terbawa hingga aku remaja. Aku benci bagaimana bisa aku berada di kelas yang ramai tetapi terasa sunyi?
Aku duduk di tengah-tengah kelas menyaksikan bola kertas beterbangan, para perempuan yang beberapa di antara mereka memilih duduk di atas meja sambil bergosip, si kutu buku yang menutup aksesnya dengan headphone dan buku tebal pastinya, sisanya tidur dan berpacaran.
Sejak awal, aku tidak tahu caranya berteman bahkan sekadar bersapa pun, tidak. Aku benar-benar tidak punya teman. Aku selalu menjadi bagian dari pengamat dan tidak ada yang menyadari kalau aku ada bahkan dengan pakaian warna mencolok pun, aku masih tak terlihat.
Satu-satunya teman mengobrolku adalah Dad. Tapi Dad sedang berlayar, mungkin sebulan, ahh, tidak mungkin. Maksudku, mungkin tiga atau empat bulan lagi baru kembali ke darat.
Di rumah, teman bermainku hanya buku. Hanya buku yang mengerti apa yang kurasa tanpa harus memberitahu. Buku tidak menilaiku sebagai individu yang aneh, tidak seperti teman-temanku di sekolah. Eh, tunggu dulu. Aku tidak punya teman, mereka juga tidak menganggapku seorang teman, bukan? Teman pasti tahu cara memperlakukan teman lainnya, bukan begitu?
Buku membuatku menjelajah tanpa harus keluar rumah. Aku bahkan tahu apa yang terjadi di masa lampau tanpa harus ke museum. Aku tahu apa yang terjadi di negara barat bahkan seluruh dunia. Bukan sombong, tapi buku memberitahukan semua yang ingin kubutuhkan.
Komentar
Posting Komentar