Aku Kecil

                          Design by Canva 


Aku kecil, dia begitu mungil. Dia belum tahu apa-apa, dia polos. Aku kecil, dia begitu kuat.
Empat puluh hari sebelum dia hidup, dia bertanya pada malaikatnya, "Kenapa aku harus pergi?" 

"Karena kamu layak untuk itu," jawab malaikat punuh keyakinan.

"Apa aku akan baik-baik saja?"

"Tentu, semua akan aman terkendali. Sedikit tanjakan dan gelombang tak masalah, 'kan?"

"Tapi ...."

Senyum malaikat melebar, "Tak apa, tenanglah. Setelah itu berita baik akan datang dan kau akan senang." 


                       Picture by Freepik


Aku kecil percaya begitu saja, sampai sekarang. Hingga dia mengerti apa yang dimaksud dengan sedikit tanjakan dan gelombang. Aku kecil sempat tidak percaya diri. Apa malaikatnya berbohong? Tidak mungkin! Malaikatnya tidak mungkin berbohong!

Sejak saat itu hingga kini, Aku kecil terus berjuang sampai-sampai dia tertidur dengan bantal yang basah. Dia tidak pernah menyangka jika sedikit tanjakan dan gelombang akan sekejam ini. Dalam tidur yang nyenyak, dia terbawa oleh arus mimpi dan mulai tenggelam dalam bayang-bayang harapan, impian, dan angan-angan. Dia semakin tenggelam karena disana semua terwujud. 

Dengan gembira hati dia bersorak, "Akhirnya aku bisa, akhirnya aku mampu. Lihat ... lihat! Aku mendapatkannya!" 


                         Picture by Freepik



Aku kecil sangat senang dengan ini, sedangkan Aku besar hanya bisa tersenyum tipis sambil berkata dalam hati, seandainya dia tahu ....

Aku besar menghela napas kasar, "Tidak apa, biarkanlah. Biarkan dia tersenyum sedikit."

Tidak lama setelah itu, Aku kecil terbangun. Aku kecil tak percaya jika ini hanya mimpi. Rasanya dia ingin tidur kembali, akan tetapi dia sadar, dia tidak bisa melakukannya karena mimpi tidak bisa di ulang. Mimpi itu hanya akan datang disaat-saat tertentu dengan episode yang berbeda.

Hingga saat ini, Aku kecil masih berjuang, dia begitu kuat dan tegar. Tentu, dia takkan lupa dengan pernyataan malaikatnya tentang tanjakan dan gelombang. Dia tidak pernah lupa. Terlebih, mimpi itu datang bagai bom waktu, membuatnya meledak-ledak setiap saat. 

Sampai di suatu malam, dia bermimpi tentang sebuah episode yang berbeda tapi alur yang sama. Aku kecil sadar, bom waktunya datang. Kali ini dia tidak percaya begitu saja. Dia hanya menyimak, memperhatikan, dan mulai mengerti tentang polanya. Menurutnya ini merupakan sebuah pesan. Ada pesan tersirat disini.

                          Picture by Freepik 



Sampai detik ini, Aku kecil masih menunggu jawaban atas mimpi-mimpinya. Mimpi yang membawa pesan tersirat. Dia masih menunggu dengan sabar.

Hari demi hari dilalui. Semakin ke depan semakin berat terasa di bahu. Dia mulai pasrah dan ikhlas jika nanti ada gelombang besar menghantamnya lagi, atau sebuah tanjakan yang lebih tinggi yang harus di daki. 

Perlahan, Aku kecil mulai menundukkan pandangan seraya bertanya pada dirinya sendiri, "Aku ini, siapa? Aku akan jadi apa nantinya?"

Masih dengan pandangan yang tertunduk, Dia mulai meratapi nasib. Tidak! Aku kecil mulai kehilangan arah. Dia sudah lepas kendali. Jalan panjang yang dia ciptakan mendadak menguap begitu saja. Bersamaan dengan air matanya yang berlinang, dia pun berteriak. 


                            Picture by Freepik 



Bohong! Kenapa malaikatnya tidak pernah memberitahu soal ini? 
Kenapa malaikatnya tidak pernah memperingatinya jika masa depan yang nanti dia tempuh sangat ambigu untuknya. 

Kenapa malaikatnya hanya bilang sedikit tanjakan dan gelombang? Apanya yang sedikit? Ini sangat banyak! Malaikatnya benar-benar berbohong padanya.

Sekarang, aku kecil mulai bertanya tentang mimpi yang dia dapat. 

Apa lagi maksud mimpi itu? 
Kenapa dia selalu datang? 
Aku kecil tidak suka jika itu hanya mimpi, Aku kecil lebih suka kalau itu jadi nyata! 

Aku kecil ...
Dia begitu rapuh. 
Dia begitu ra-puh.
Dia sangat lelah. 

Dia sudah tertidur dalam istirahatnya yang panjang, berharap jika dia bangun nanti mimpinya jadi nyata.





Komentar